Video: Ujung Perang Belum Pasti – Investor Pantau Harga Minyak-Bitcoin

Video: Ujung Perang Belum Pasti, Investor Pantau Harga Minyak-Bitcoin

Ketidakpastian Ekonomi Masih Menghiasi, Inflasi RI Turun ke 3,45%

Jakarta, Pada bulan Maret 2026, inflasi Indonesia mencatatkan penurunan signifikan menjadi 3,45% (yoy) dibandingkan angka 4,76% (yoy) di tahun sebelumnya. Periode ini berbarengan dengan musim Ramadan dan Lebaran, yang memengaruhi dinamika pasar. Meski angka inflasi menunjukkan perlambatan, Genta Wira Anjalu, Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, mengatakan bahwa hal ini bisa dianggap sebagai angin segar. Namun, ia mengingatkan bahwa tekanan dari konflik Timur Tengah masih mengancam.

“Data inflasi ini cukup konstruktif, tetapi kita tetap perlu waspada karena tekanan dari dampak perang Timur Tengah masih sangat besar,” ujar Genta Wira Anjalu.

Menurut Genta, jika lonjakan harga minyak terus meningkat dan APBN tidak bisa menampung beban tersebut, pemerintah mungkin terpaksa menyesuaikan harga energi. Hal ini berpotensi memicu kenaikan inflasi kembali. Selain itu, para pelaku pasar kini masih memantau perkembangan geopolitik global yang dipicu oleh Presiden Donald Trump. Konflik ini diperkirakan akan mengubah tiga aspek utama: harga minyak, nilai tukar mata uang, serta suku bunga.

Harga minyak, emas, dan aset berisiko seperti Bitcoin menjadi fokus utama investor. Genta menekankan bahwa tekanan dari perang Timur Tengah masih berdampak signifikan pada pasar finansial. Meski inflasi mengalami perlambatan, ketidakpastian politik dan ekonomi tetap memengaruhi keputusan investasi.

Bagaimana pengaruh perkembangan geopolitik global terhadap tiga indikator utama tersebut? Simak selengkapnya dalam wawancara dengan Shafinaz Nachiar dan Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Genta Wira Anjalu, dalam program Power Lunch, CNBC Indonesia (Kamis, 02/04/2026).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *