Latest Program: Lebaran Betawi 2026 disederhanakan, Foke tekankan empati sosial
Lebaran Betawi 2026 disederhanakan, Foke tekankan empati sosial
Perayaan di Lapangan Banteng jadi momentum sosial
Dalam perayaan Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Foke menyatakan bahwa acara ini dirancang lebih sederhana sebagai bentuk perhatian terhadap tantangan sosial dan global saat ini. “Situasi dunia kini menciptakan ketidakpastian, dan banyak saudara kita masih menghadapi kesulitan,” ujarnya. Karena itu, MKB memutuskan untuk memangkas kompleksitas perayaan ini.
“Kita dapat hadir merayakan Lebaran Betawi di tempat yang bersejarah ini. Terima kasih kepada Pak Gubernur dan seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini,” kata Foke, yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta.
Foke menekankan bahwa penyederhanaan ini bukan hanya upaya ekonomi, tetapi juga refleksi kepedulian terhadap kesulitan masyarakat akibat bencana alam dan konflik kemanusiaan di Jalur Gaza. “Nilai-nilai ini tidak boleh hilang. Justru harus kita rawat dan kita turunkan kepada generasi penerus,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Foke menyebut Lebaran Betawi sebagai ajang kebersamaan yang mendorong kelestarian budaya Betawi. “Dengan tema ‘Lebaran Betawi untuk Jakarta Memperkokoh Persatuan, Merawat Tradisi Menuju Jakarta Kota Global’, acara ini juga menjadi ruang inklusif bagi seluruh warga Jakarta,” jelasnya.
“Sebagai bentuk keprihatinan terhadap suasana batin yang berkembang akhir-akhir ini, masih banyak saudara-saudara kita yang belum kembali pulih dari bencana alam yang terjadi sehingga kehidupan sosial dan ekonominya belum pulih, kemudian berlangsungnya penindasan di jalur Gaza, dan akhir-akhir ini perang di Timur Tengah yang berdampak ketidakpastian di seluruh dunia,” kata Foke.
Lebaran Betawi 2026 tetap menyimpan inti budaya yang menjadi ciri khas Betawi, seperti tradisi “antaran” atau “sorogan”. Ia menegaskan bahwa simbol ini menunjukkan penghormatan dari generasi muda kepada senior, bukan sekadar bentuk gratifikasi. “Ini adalah ekspresi takzim dan penghormatan. Jadi bukan gratifikasi, melainkan budaya yang harus kita pahami bersama,” ucap Foke.
Foke juga mengajak seluruh masyarakat untuk memaklumi keputusan menyederhanakan acara dan menjadikannya sebagai peluang mempererat persaudaraan. “Pendekatan inklusif ini penting untuk memperkenalkan budaya Betawi secara lebih luas sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada nilai lokal,” tuturnya.