Special Plan: Video: Jurus Investasi Saat Perang Kian Panas & Infllasi Terancam Naik
Video: Strategi Investasi di Tengah Pemanasan Perang & Ancaman Inflasi
Jakarta — Dalam situasi ketegangan di kawasan Timur Tengah yang semakin memuncak, Dimas Yusuf, Investment Director Sucor Asset Management, mengungkapkan bahwa pelemahan nilai Rupiah terkait erat dengan aliran modal asing yang meningkat ke luar negeri, khususnya dari sektor pasar obligasi. Kondisi ekonomi global dan domestik masih menjadi fokus pemantauan investor, meski saat ini valuasi pasar keuangan Indonesia dinilai menarik. Bagaimana strategi pengelolaan dana Sucor Asset Management menghadapi dinamika geopolitik yang tak terduga? Simak wawancara lengkap Syarifah Rahma dengan Dimas Yusuf dalam program Power Lunch, CNBC Indonesia (Senin, 30/03/2026).
Analisis tentang Kondisi Mata Uang
Dimas Yusuf menjelaskan bahwa tren penurunan Rupiah tidak terlepas dari meningkatnya capital outflow asing, terutama dari pasar obligasi. Meski pemanasan perang berdampak pada stabilitas ekonomi, ia menilai bahwa valuasi pasar keuangan dalam negeri tetap menarik untuk investor. “Kondisi pasar keuangan RI saat ini sangat kompetitif, karena berbagai faktor seperti inflasi yang mengancam kenaikan bisa menjadi peluang,” ujarnya.
“Kondisi pasar keuangan RI saat ini sangat kompetitif, karena berbagai faktor seperti inflasi yang mengancam kenaikan bisa menjadi peluang,” kata Dimas Yusuf.
Dalam menghadapi gejolak perang, Sucor Asset Management fokus pada diversifikasi portofolio dan pemantauan risiko secara dinamis. Strategi ini dirancang untuk menjaga ketahanan investasi meski ada tekanan dari perubahan politik global. Dengan perspektif jangka panjang, Dimas berharap pasar tetap stabil meski terjadi fluktuasi sementara.