Solving Problems: Pernyataan JK Dinilai Tidak Tepat dan Berpotensi Sesatkan Pemahaman Publik
Pernyataan JK Dinilai Tidak Tepat dan Berpotensi Sesatkan Pemahaman Publik
JAKARTA – Kritik muncul terhadap pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang menggambarkan hubungan antara konsep keagamaan dan konflik di Poso serta Ambon. Koordinator LBH Arus Bawah Prabowo (ABP) Steven Pailah mengatakan, ucapan JK dalam pidato di Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu bisa menyesatkan masyarakat jika tidak disesuaikan dengan fakta.
Kritik Steven Pailah
Steven menilai pernyataan JK mengandung kesalahan konseptual karena menyamakan dua doktrin agama yang berbeda. Dalam ajaran Kristen, tidak ada konsep yang mendukung tindakan membunuh sebagai cara mencapai kemuliaan spiritual. “Konsep ‘syahid’ dalam Kekristenan lebih berkaitan dengan kesediaan menderita atau wafat tanpa kekerasan, bukan sebaliknya,” jelas Steven, Minggu (12/4/2026).
“Kenapa agama sering menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Semua pihak. Kristen juga berpikir begitu. ‘Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid’. Akhirnya susah berhenti,” ujar JK.
Menurut Steven, narasi semacam ini bisa menyamaratakan bahwa semua agama memiliki legitimasi untuk membenarkan kekerasan. “Ini berisiko membuat masyarakat bingung tentang akar konflik, yang sebenarnya juga dipengaruhi faktor sosial, politik, dan ekonomi,” tambahnya.
Klarifikasi Jubir Jusuf Kalla
Juru Bicara JK, Husain Abdullah, menjelaskan bahwa dalam pidato di Masjid UGM pada Kamis (5/3/2026), mantan wapres ini menyampaikan pengalaman menyelamati konflik Poso dan Ambon. “JK menegaskan bahwa kedua pihak sulit berdamai karena menggunakan jargon agama sebagai alasan pembenaran,” kata Husain kepada SindoNews.
“JK menceritakan bahwa keduanya menganggap saling membunuh sebagai perang suci. Untuk mendinginkan situasi, pandangan itu perlu diluruskan. Karena itu, ia menegaskan, ‘kalian semua akan masuk neraka jika saling membunuh, bukan masuk surga. Tidak ada agama yang mengajarkan tindakan itu sebagai jalan menuju kemuliaan spiritual,’” papar Husain.
Steven mengkritik pernyataan tersebut karena terkesan mempermudah masalah. Ia menekankan pentingnya tokoh publik memberikan informasi akurat, terutama soal isu sensitif seperti konflik horizontal dan agama. “Diskursus tentang konflik dan agama harus berlandaskan fakta, bukan generalisasi yang memperkeruh kesadaran masyarakat,” pungkasnya.