Facing Challenges: Meski Dibuka, Petaka Hormuz Belum Usai: Dunia Kacau Balau Lebih Lama

Meski Dibuka, Petaka Hormuz Belum Usai: Dunia Kacau Balau Lebih Lama

Jakarta, Penutupan selat Hormuz yang efektif tidak hanya menghentikan aliran minyak dan gas, tetapi juga berpotensi menyebabkan dampak berkepanjangan pada rantai pasok global dan pola perdagangan internasional. Meski pembukaan segera dilakukan, para pelaku industri pelayaran mengingatkan bahwa kembalinya arus tidak otomatis mengembalikan kondisi seperti semula.

Ketidakpastian Pasca-Pembukaan

Dampak logistik diperkirakan akan terasa hingga beberapa bulan setelah kapal-kapal kembali melintas. “Meski perang diumumkan berakhir dan serangan berhenti, logistik masih menghadapi tantangan berkepanjangan karena saat itulah pekerjaan sebenarnya dimulai,” ujar Nils Haupt, direktur senior komunikasi korporat perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd, seperti dilaporkan Al Jazeera pada Rabu (1/4/2026).

“Banyak kontainer masuk ke wilayah Teluk Persia, dan kita akan melihat gangguan pada rantai pasok ke dan dari daerah itu,” kata Haupt.

Kondisi Kapal dan Infrastruktur

International Maritime Organization mencatat sekitar 2.000 kapal saat ini terjebak di kawasan akibat blokade parsial yang diterapkan Iran. Sejumlah 400 kapal lainnya berada di Teluk Oman, menunjukkan kehati-hatian perusahaan pelayaran dalam menunggu momen pembukaan selat tersebut. Beberapa kapal justru dialihkan ke Terusan Suez atau mengambil rute yang jauh, mengelilingi Tanjung Harapan, untuk mengirimkan barang ke Asia dan Eropa.

Pengiriman minyak dari Arab Saudi, misalnya, dialihkan melalui Laut Merah untuk menghindari risiko di selat. Svein Ringbakken dari Norwegian Shipowners’ Mutual War Risks Association menyatakan bahwa penumpukan minyak, gas, dan barang akan sulit diselesaikan cepat meskipun fasilitas logistik beroperasi maksimal. “Penumpukan ini membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dikembalikan ke kondisi normal, karena keterbatasan kapasitas penyimpanan,” tambahnya.

“Lini produksi harus dihentikan untuk banyak produk karena kurangnya kapasitas penyimpanan,” ujar Ringbakken.

Data dari Lloyd’s List menunjukkan hanya sedikit kapal yang melintas setelah mendapat izin Teheran. Bahkan, ada laporan bahwa satu kapal membayar US$2 juta untuk melewati selat. Legislator Iran juga menyetujui aturan biaya transit, menurut Fars News Agency.

Kerusakan dan Dampak Ekonomi

International Energy Agency menyebutkan lebih dari 40 aset energi di wilayah tersebut mengalami kerusakan parah. Perusahaan seperti QatarEnergy, Kuwait Petroleum Company, dan Bapco Energies bahkan menyatakan force majeure karena gangguan produksi. Penutupan selat, sebagai respons atas serangan AS dan Israel sejak 28 Februari, telah mengganggu sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.

“Pemulihan memerlukan stabilitas jangka panjang, karena keamanan harus djamin 100%,” tambah Oscar Seikaly dari NSI Insurance Group.

SV Anchan dari Safesea menegaskan bahwa kejadian ini mengajukan pertanyaan tentang cara perusahaan mengelola risiko. “Ancaman asimetris, seperti kemampuan menyerang tanpa awak, telah mengubah lingkungan risiko secara mendasar,” ujarnya.

Marco Forgione dari Chartered Institute of Export & International Trade memperkirakan kepercayaan industri pelayaran sulit pulih. “Memulihkan kepercayaan pengirim pada keamanan selat membutuhkan jaminan permanen, yang bisa menghabiskan bertahun-tahun,” katanya. Ia juga menyoroti kenaikan premi asuransi hingga 300%, yang hanya bisa ditanggung perusahaan selama waktu terbatas.

“Resolusi harus benar-benar permanen agar tarif asuransi bisa kembali normal,” ujar Seikaly.

Nick Marro dari Economist Intelligence Unit menambahkan bahwa pengalaman serangan di Laut Merah menggambarkan tantangan jangka panjang dalam memulihkan kepercayaan industri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *