Facing Challenges: Video: Industri Penunjang Belum Siap, PR RI Kembangkan PLTS-Geothermal

Video: Industri Penunjang Belum Siap, PR RI Kembangkan PLTS-Geothermal

Dari Jakarta, Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR RI, mengungkapkan dampak perang di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok energi, terutama meningkatkan harga minyak mentah global. Ia menjelaskan bahwa meskipun konflik tersebut belum langsung memengaruhi pasokan energi, penutupan Selat Hormuz bisa memicu persaingan sengit dalam perdagangan minyak mentah di pasar internasional.

Dalam upaya mengurangi ketergantungan pada impor energi, Eddy menekankan pentingnya mengembangkan sumber daya terbarukan, meningkatkan produksi minyak bumi nasional, serta memperkuat cadangan bahan bakar hingga mencapai 90 hari. Selain itu, ia mengatakan bahwa situasi Timur Tengah berfungsi sebagai sinyal peringatan untuk mempercepat pemanfaatan energi terbarukan dalam proses elektrifikasi.

Menurut Eddy, konflik di wilayah tersebut juga menjadi pengingat bagi pemerintah untuk lebih serius dalam menghadapi krisis energi. Namun, tantangan dalam pengembangan EBT masih ada, seperti kesiapan industri manufaktur pendukung yang belum memadai, menyebabkan ketergantungan pada barang impor, dan kebutuhan dana investasi yang mencapai 3,7 triliun rupiah.

Eddy menyoroti bahwa kebutuhan pendanaan investasi yang besar menjadi hambatan utama dalam mendorong pertumbuhan energi terbarukan. Kondisi ini memperlihatkan perlunya perencanaan matang dan peningkatan kapasitas industri lokal guna mendukung strategi energi nasional.

Bagaimana pandangan anggota legislatif terhadap dampak konflik Timur Tengah dan langkah antisipatif yang perlu diambil pemerintah? Simak selengkapnya dalam wawancara Syarifah Rahma dengan Eddy Soeparno, Wakil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *