Iran Respons Ancaman Trump Rebut Negaranya Selasa Malam – Teriak Ini
Iran Respons Ancaman Trump Rebut Negaranya Selasa Malam, Teriak Ini
Jakarta, Pemerintah Iran menolak usulan gencatan senjata sementara dan meminta penyelesaian konflik dengan Amerika Serikat serta Israel secara permanen. Menurut laporan Reuters, Teheran menegaskan tidak akan mengakui tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa syarat. Pihak Iran menyatakan bahwa tuntutan mereka, termasuk pencabutan sanksi dan pemulihan infrastruktur, harus dipenuhi sepenuhnya.
Respons Iran: 10 Klausul Mendalam
Kantor berita Iran, IRNA, melaporkan bahwa respon Teheran mencakup 10 klausul yang menyasar protokol jalur aman di Selat Hormuz serta penghentian konflik di seluruh wilayah. Iran menekankan bahwa pengakhiran perang secara menyeluruh adalah prioritas utama. Mereka bersikeras bahwa kontrol atas jalur energi global tidak akan dilepas mudah.
“Trump sedang berhalusinasi. Peringatan tersebut adalah retorika yang kasar, sombong, dan ancaman yang tidak berdasar,” tegas Zolfaqari dalam siaran televisi.
Ancaman Trump dan Ultimatum
Presiden AS, Donald Trump, langsung menolak respons Iran dan memberi tenggat waktu hingga Selasa pukul 20.00 waktu setempat. Trump mengancam akan menghancurkan semua jembatan dan pembangkit listrik di Iran jika negara itu gagal mencapai kesepakatan. “Iran bisa saja tamat dalam satu malam, dan malam itu mungkin adalah besok malam. Tanpa kesepakatan, setiap jembatan akan hancur dan pembangkit listrik akan berhenti beroperasi,” ujarnya.
“Kami akan berdiri berpegangan tangan untuk mengatakan bahwa menyerang infrastruktur publik adalah kejahatan perang,” tulis Rahimi melalui akun media sosial X.
Wakil Menteri Olahraga Iran, Alireza Rahimi, menyerukan aksi pembentukan rantai manusia oleh para atlet dan seniman di berbagai pembangkit listrik sebagai bentuk perlindungan terhadap infrastruktur. Pernyataan ini menunjukkan solidaritas rakyat Iran terhadap ancaman serangan fisik. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, bersumpah akan menunjukkan kekuatan militer sebagai balasan atas serangan terhadap Universitas Teknologi Sharif.
Rebutan kekuasaan antara Iran dan AS semakin memanas setelah Trump memberikan peringatan serius. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mendukung ancaman tersebut dengan menyatakan akan menghancurkan seluruh infrastruktur Iran serta memburu para pemimpinnya. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa serangan ke fasilitas petrokimia selatan Iran adalah upaya untuk memutus pendanaan militer. “Serangan itu bagian dari upaya membongkar mesin uang Garda Revolusi Iran,” jelasnya.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menambahkan bahwa serangan udara pada Selasa akan menjadi yang paling masif sejak konflik berdarah enam minggu lalu. Ia memprediksi eskalasi akan terus meningkat setelah tenggat waktu Trump berakhir. “Hari Selasa akan menjadi hari dengan lebih banyak serangan dibandingkan hari sebelumnya,” katanya.