Key Discussion: Maaf AS, Dunia Lebih Percaya Pernyataan Iran Dibanding Donald Trump
Maaf AS, Dunia Lebih Percaya Pernyataan Iran Dibanding Donald Trump
Pada Selasa malam, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir dalam 2-3 minggu. Dalam wawancara dengan AFP, ia menyatakan AS akan “meninggalkan” Iran setelah yakin bahwa rezim saat ini tidak bisa mengembangkan senjata nuklir yang sudah direncanakan selama bertahun-tahun. Pernyataan ini disampaikan di Ruang Oval, menjelang pidato nasional tentang Iran yang dijadwalkan Rabu (1/4/2026) malam waktu Washington atau Kamis (2/4/2026) pagi waktu Indonesia.
“Perang akan segera berakhir… atau mungkin akan berlangsung lama. Kita tidak takut mengirim pasukan darat… tetapi mungkin juga tidak. Ancaman dari Iran segera… tetapi mungkin butuh 10 tahun untuk berkembang, seperti yang disarankan intelijen AS,” ujar Ted Widmer dalam opini yang dimuat di The Guardian.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya siap berdamai dengan AS dan Israel, asalkan “musuh-musuhnya menjamin perang tidak akan berkobar lagi.” Meski begitu, pernyataan Trump masih dipertanyakan kebenarannya. Ted Widmer mengkritik kecenderungan Trump memecah belah dukungan internasional dengan ejekan dan ancaman, terutama terhadap sekutu. Menurutnya, cara ini membuat strategi perang terasa tidak jelas, bahkan setelah sebulan berlalu.
Mantan direktur CIA John Brennan menambahkan bahwa ia lebih percaya pada pernyataan Iran dibanding Trump. Brennan mengungkapkan kecenderungan Trump memperbesar kekacauan, dengan sinyal yang sering berubah dan klaim yang tidak konsisten. “Trump suka memutarbalikkan fakta,” katanya, menyebut pernyataannya saat konflik memanas di Teluk sebagai taktik untuk menenangkan pasar saham dan mengurangi tekanan harga minyak.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa kampanye militer terhadap Iran akan terus berlangsung. Ia menyatakan, “Kami akan terus menghancurkan rezim teror,” menambahkan bahwa rezim tersebut telah mengubah wajah wilayah Timur Tengah. Meski Trump bersikukuh pada proyeksi cepat berakhirnya perang, kekacauan yang ia ciptakan justru memperumit situasi, menurut para ahli.
Kebutuhan Ketidakkonsistenan
Trump sering mengeluarkan pernyataan dari kediamannya di Florida, sambil mengenakan topi baseball, berbeda dengan pidato resmi dari Meja Resolute di Gedung Putih. Pernyataan-pernyataannya dianggap tidak konsisten, dengan sinyal yang berubah-ubah. Brennan mengatakan, “Setiap intervensi telah menambah kekacauan, dengan pernyataan yang bertentangan atau hanya menyangkal kenyataan.”
Dalam pandangan Widmer, kekacauan tersebut melukai prestise AS, terutama di dalam negeri. Pidato Trump juga memperdalam jurang antara pihak-pihak yang bersengketa, dengan dekrit keras yang terdengar samar-samar seperti pendekatan Perang Dunia Kedua, menuntut “penyerahan tanpa syarat” yang tidak ditawarkan Iran.
Konflik dan Strategi
Kekacauan dari Trump membuat dunia meragukan kepastian rencananya. Namun, Iran tetap menjadi pihak yang dianggap lebih dapat dipercaya, dengan pernyataan yang konstan dan keinginan untuk berdamai. Pernyataan ini memperkuat kesan bahwa Iran memiliki kemauan untuk mengakhiri perang, sementara AS masih bingung menemukan arah yang jelas.