Key Discussion: Perang Iran Dorong Teluk Cari Sekutu Baru, Apa Kabar “NATO Muslim”?

Perang Iran Dorong Negara Teluk Cari Sekutu Baru, Apa Kabar “NATO Muslim”?

Jakarta, konflik antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menyebabkan perubahan dalam strategi keamanan negara-negara di Teluk. Stabilitas wilayah dan kondisi ekonomi kawasan terganggu, sehingga para pemimpin regional mempertimbangkan untuk mengembangkan aliansi pertahanan baru. Mereka sadar bahwa ancaman dari Iran belum sepenuhnya hilang, terutama karena masih tersisa senjata rudal yang bisa digunakan kapan saja.

Adanya pangkalan militer AS di wilayah Teluk membuat negara-negara tersebut menjadi target serangan balik Iran setelah operasi gabungan Washington dan Israel. Meski begitu, mereka menegaskan bahwa tidak akan menerima Iran memegang kendali Selat Hormuz, jalur perdagangan vital yang mengalirkan sebagian besar komoditas ekonomi mereka.

Dalam kesepakatan gencatan senjata baru-baru ini, Iran tetap meneguhkan posisinya untuk mempertahankan dominasi di perairan strategis itu. Ini memberi Teheran kemungkinan untuk menekan negara-negara Teluk sewaktu-waktu. Masa depan Selat Hormuz menjadi isu utama dalam perundingan antara AS dan Iran di Islamabad, yang akan segera dimulai pada Jumat.

Para ahli mengungkapkan bahwa negara-negara Teluk sedang terpecah dalam menentukan arah hubungan ke depan dengan Iran. Kelompok yang lebih proaktif didominasi oleh Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain, sementara negara lain ingin menenangkan ketegangan melalui kemitraan dengan Teheran. Media Iran mengklaim UEA mungkin terlibat dalam serangan terhadap fasilitas minyak di Pulau Lavan setelah pengumuman gencatan senjata, dan Iran disebut sudah membalas.

Jika benar, ini akan menjadi satu-satunya serangan ofensif dari negara Teluk selama lima pekan konflik. Dalam perjalanan ke Jeddah, Perdana Menteri Keir Starmer berdiskusi dengan putra mahkota Arab Saudi tentang penguatan kerja sama industri pertahanan antara Inggris dan Arab Saudi.

Kemitraan Baru dan Pertimbangan Politik

Profesor di Kuwait University, Bader Mousa Al-Saif, menyarankan negara-negara Teluk perlu mengubah pola keamanan mereka dengan membangun hubungan dengan Turki dan kekuatan menengah lainnya, bukan hanya bergantung pada AS. Ia menilai penting untuk menghindari risiko perang berulang agar fondasi ekonomi dapat pulih.

“Ini menjadi kewajiban semua negara di kawasan untuk memikirkan ulang modelnya. Pertanyaannya adalah bagaimana melindungi wilayah secara keseluruhan dari terjerumus ke dalam konflik tanpa akhir,” kata Al-Saif, dilansir The Guardian, Jumat (10/4/2026).

Selama konflik, Arab Saudi, UEA, dan Qatar telah menandatangani perjanjian pertahanan dengan Ukraina untuk menghadapi ancaman drone Iran. Gagasan membentuk “NATO Muslim” sempat muncul, tetapi dinilai kurang mungkin terwujud. Terkini, aliansi baru berupa “Step” terbentuk di Maret, melibatkan Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Pakistan.

Rivalitas internal serta ketidakjelasan apakah mereka fokus pada Iran atau Israel membuat format ini rumit. Turki dan Pakistan, yang berbatasan langsung dengan Iran, justru menginginkan hubungan lebih stabil. Profesor ilmu politik di UEA, Abdulkhaleq Abdulla, memprediksi bahwa hubungan keamanan dengan AS akan semakin dalam, sementara lebih banyak negara mengikuti langkah UEA untuk memperkuat hubungan dengan Israel.

Langkah tersebut sudah terlihat sebelum perang, seperti perjanjian pertahanan Arab Saudi dengan Pakistan dan UEA dengan India. Dengan adanya kesempatan ini, negara-negara Teluk kini mempertimbangkan ulang peran mereka dalam dinamika kawasan. Namun, keberadaan 2.256 drone yang menyerang UEA menjadi bukti bahwa risiko masih mengintai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *