Key Strategy: 3 Skenario Gencatan Senjata AS-Iran: ‘Bos’ Selat Hormuz-Damai Permanen
3 Skenario Gencatan Senjata AS-Iran: ‘Penguasa Selat Hormuz’ Berhasil Membangun Damai Permanen
Berita dari Jakarta menyebutkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran mulai masuk ke fase diskusi gencatan senjata. Pada malam 7 April, dikabarkan bahwa Washington dan Teheran telah setuju untuk menetapkan gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan ini segera disahkan oleh Israel yang memutuskan untuk ikut serta dalam perjanjian tersebut.
Skenario 1: Jeda Permusuhan yang Berkelanjutan
Dalam analisisnya, Sergey Poletaev mengungkapkan bahwa periode jeda ini mungkin bertahan hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Ia memprediksi bahwa gencatan senjata bisa diperpanjang meski formalisasi perjanjian damai belum tercapai. Dalam skenario ini, negara-negara Arab akan fokus pada pengembangan sistem pertahanan udara baru, dengan rencana membangun kemampuan pencegat massal yang relatif murah, baik dari darat menggunakan senjata Pantsir Rusia maupun dari udara.
Menurut Poletaev, kebijakan kedua negara Arab adalah memperluas jalur logistik, khususnya dengan membangun saluran pipa ke Laut Merah untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz yang di kendalikan Iran. Namun, untuk negara seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Irak, infrastruktur pipa lintas Semenanjung Arab justru bisa menciptakan ketergantungan baru pada Arab Saudi, lengkap dengan biaya pengiriman tambahan.
“Pada akhirnya, mereka tidak terlalu memikirkan siapa yang menjadi penyedia keamanan. Masa lalu mereka membayar AS, sekarang akan membayar Iran. Harga yang ditawarkan tidak terlalu tinggi, sekitar US$ 2 juta per supertanker, yang hanya 2-3% dari nilai minyak di dalamnya. Pembeli pun akan menanggung biaya tersebut,” ungkap Poletaev.
Menurut penulis, kebijakan menyerahkan upeti kepada tetangga adalah tanda kebijakan pemerintahan yang bijak. Prinsip ini jelas dipahami oleh Iran dan negara-negara Arab. Ironisnya, AS dan Israel justru memperkuat tatanan politik baru di wilayah tersebut.
Skenario 2: Perang Kembali Memanas
Dalam skenario kedua, Poletaev memprediksi bahwa konflik bisa kembali memuncak dalam dua minggu jika para negosiator Iran menjadi sasaran serangan. Meski demikian, ia menilai kemungkinan ini relatif kecil karena AS dan Israel kini kesulitan menemukan jalur serangan yang efektif untuk mengalahkan Iran secara besar-besaran.
Posisi utama koalisi, menurut Poletaev, adalah melakukan kampanye pengeboman strategis. Namun, risiko besar terjadi karena pesawat pengebom seperti B-52 rentan terhadap sistem pertahanan udara Iran yang ternyata masih kuat. Selain itu, kemampuan rudal Iran yang terus meningkat serta kegagalan AS menghambat infrastruktur peluncuran drone mengurangi daya saing pengeboman besar.
“Serangan besar berpotensi memicu balasan dari Iran yang bisa merusak sistem monarki minyak Arab, memperdalam krisis minyak global, dan mendorong perekonomian dunia ke jurang kehancuran,” kata Poletaev.
Sebagai tambahan, Poletaev menyebutkan bahwa Israel juga bisa terkena dampak serangan Iran. Berdasarkan laporan JPMorgan yang mengutip Institute for National Security of America, tingkat keberhasilan serangan Iran ke wilayah Israel telah meningkat drastis, dari 3% pada awal perang menjadi 27% pada akhir Maret hingga awal April.