Key Strategy: Ekonom Ungkap Harga Asli BBM Pertamax, Pertamina Mesti Naggung Segini

Ekonom Ungkap Harga Asli BBM Pertamax, Pertamina Mesti Naggung Segini

Analisis Ekonomi Terhadap Harga BBM Pertamax

Pertamax (RON 92) saat ini dijual dengan harga Rp12.300 per liter, menurut ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet masih berada di bawah harga keekonomiannya. Ia menjelaskan bahwa harga keekonomian bahan bakar ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni harga minyak global dan kurs rupiah terhadap dolar AS.

“Dengan kondisi sekarang harga minyak masih relatif tinggi di kisaran 80-90 dolar AS per barel dan rupiah di atas Rp15.500, maka secara kasar harga keekonomian Pertamax ada di rentang Rp14.500 sampai Rp15.500 per liter,” ungkap Yusuf kepada CNBC Indonesia, Kamis (2/4/2026).

Menurut Yusuf, selisih antara harga jual Pertamina dan harga keekonomiannya mencapai Rp2.200 hingga Rp3.200 per liter. Ia menegaskan bahwa selisih ini tidak hilang, melainkan bergeser menjadi beban yang ditanggung oleh badan usaha dalam jangka pendek.

Perbedaan Estimasi Harga Keekonomian BBM

Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira memberikan angka berbeda. Menurutnya, harga keekonomian BBM non subsidi Pertamax diperkirakan mencapai Rp18.740 per liter, sementara Pertamina Dex mencapai Rp25.560 per liter.

“Harga keekonomian BBM non subsidi di level Rp18.740 per liter untuk RON 92. Sementara Pertamina Dex di Rp25.560 per liter. Selisihnya berarti pemerintah tanggung kompensasi RON 92 sebesar Rp6.440 per liter dan Dex Rp11.060 per liternya,” kata Bhima.

Bhima menambahkan, selisih tersebut berpotensi masuk ke skema kompensasi pemerintah, yang bisa menambah tekanan terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Ia menyebutkan, kondisi ini berisiko meningkatkan beban fiskal, dengan estimasi kebutuhan mencapai di atas Rp130-150 triliun.

Pernyataan Menteri Keuangan Mengenai Subsidi dan Kompensasi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa harga BBM yang ditahan di Indonesia tidak akan menguras subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026. Ia menegaskan bahwa saat ini, beban tersebut sepenuhnya ditanggung oleh PT Pertamina (Persero).

“Sementara sepertinya Pertamina, sementara ya,” kata Purbaya saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Purbaya menjelaskan, likuiditas Pertamina kini lebih luas karena pemerintah mempercepat pembayaran subsidi dan kompensasi. “Dia mampu karena sekarang pembayaran dari pemerintah lancar, dan kompensasi kita bayar tiap bulan 70% terus menerus,” tambahnya.

Dalam jangka pendek, keuangan Pertamina dianggap aman untuk menahan beban harga minyak. Namun, Menteri Keuangan juga menyebutkan rencana penggelontoran anggaran tambahan sebesar Rp90 triliun hingga Rp100 triliun untuk subsidi energi tahun ini. Ia mengungkapkan, keuangan negara dianggap cukup baik, dengan bantalan yang cukup memadai.

Berdasarkan informasi hingga akhir Februari 2026, nilai belanja subsidi… (kata-kata terpotong di akhir paragraf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *