Key Strategy: Pengumuman, Garda Revolusi Iran Buat Rencana Baru untuk Selat Hormuz
Iran Umumkan Strategi Baru untuk Jalur Selat Hormuz
Dari Jakarta, Pasukan Garda Revolusi Iran tengah menyelesaikan persiapan untuk menerapkan skema operasional baru di Selat Hormuz. Kondisi perairan tersebut telah ditutup sejak konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel dimulai pada 28 Februari lalu. Menurut pernyataan Angkatan Laut IRGC yang dikutip AFP, “Tim laut IRGC sedang finalisasi persiapan untuk implementasi rencana yang dikeluarkan otoritas Iran mengenai tatanan baru di Teluk Persia,” mereka menyatakan bahwa situasi tidak akan kembali seperti semula, terutama bagi AS dan Israel.
Ancaman dari Trump
Pernyataan Iran muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan ancaman baru untuk menyerang infrastruktur Iran, seperti pembangkit listrik dan jembatan, jika jalur pelayaran vital Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Trump bahkan menyebut Iran akan diubah menjadi “neraka”. Sebelumnya, Iran hanya mengizinkan aliran terbatas melalui jalur tersebut, yang mengganggu sekitar 20% distribusi minyak dan gas global.
Koordinasi dengan Oman
Sebagai respons, kantor berita Oman melaporkan bahwa negara tersebut telah melakukan diskusi dengan Iran untuk melebarkan akses melalui Selat Hormuz, yang masih tertutup karena konflik. Dalam beberapa minggu terakhir, para anggota parlemen Iran juga mengusulkan pengenaan tarif dan pajak pada kapal yang melewati jalur tersebut.
Kapal Turki Melintasi Selat Hormuz
Sementara itu, tiga kapal dari Turki kembali melewati Selat Hormuz. Kapal “Ocean Thunder” yang membawa minyak mentah dari Irak ke Malaysia melintas dengan aman pada malam hari. Menteri Transportasi Turki, Abdulkadir Uraloglu, menyatakan, “Kapal milik Turki yang sedang dalam perjalanan tersebut telah melewati Selat Hormuz tadi malam.” Menurut data intelijen Marine Traffic, kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Basra, Irak.
“Dengan pelayaran ini, jumlah kapal Turki di sekitar Selat Hormuz turun menjadi 12, dan jumlah kapal yang berusaha keluar berkurang menjadi delapan,” tambah Uraloglu. Ia juga menyebut upaya sedang dilakukan untuk memastikan delapan kapal lain bisa melewati perairan tersebut.
Saat ini, 156 personel bertugas di kapal-kapal milik Turki. Pernyataan ini menunjukkan langkah kecil dalam mengembangkan akses di jalur yang kritis bagi keamanan energi global.