Key Strategy: RI Bisa Swasembada Gula Konsumsi Tahun Depan? Petani Tebu Bilang Gini

RI Bisa Swasembada Gula Konsumsi Tahun Depan? Petani Tebu Bilang Gini

Jakarta – Upaya mencapai swasembada gula konsumsi dalam jangka pendek masih memicu pertanyaan. Meski data produksi dan kebutuhan semakin mendekat, para petani tebu mengungkapkan bahwa kondisi di lapangan belum sepenuhnya mendukung klaim swasembada. Soemitro Samadikoen, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), menilai angka kebutuhan gula nasional berkisar antara 2,5 hingga 2,8 juta ton setiap tahun, sesuai dengan estimasi pemerintah.

“Gula konsumsi mencapai 2,6 hingga 2,8 juta ton per tahun. Jika Kalimantan mengimpor dari Malaysia, angkanya bisa sedikit lebih tinggi, sekitar 2,7 hingga 2,8 juta ton. Pernyataan Menteri Pertanian tentang 2,8 juta ton konsumsi sudah tepat. Kebutuhan nasional tahunan berada di rentang 2,5 juta hingga 2,8 juta ton,” ujar Soemitro kepada CNBC Indonesia, Jumat (10/4/2026).

Dari sisi produksi, Soemitro menyebutkan bahwa angka nasional kini sudah mendekati kebutuhan tersebut, mencapai sekitar 2,5 juta ton per tahun. Namun, ia menambahkan bahwa Indonesia masih menyimpan stok gula konsumsi dari tahun sebelumnya, sebanyak 1,2 juta ton.

Soemitro menegaskan bahwa swasembada gula tidak bisa diukur hanya dari perhitungan produksi dan konsumsi. “Swasembada sebenarnya harus benar-benar dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri, bukan hanya angka di kertas,” lanjutnya. Ia mengkritik adanya pasokan gula dari luar negeri yang masih masuk ke pasar lokal, terutama di daerah perbatasan, sehingga konsumsi tidak sepenuhnya berasal dari dalam negeri.

“Contoh, Kalimantan Barat membeli dari Malaysia melalui Entikong. Kalimantan Utara dan Timur juga mengimpor dari tetangga. Meski pasar terpenuhi, itu bukan berarti swasembada,” jelas Soemitro.

Menurut Soemitro, kondisi ini perlu diperbaiki sebelum pemerintah menyatakan Indonesia benar-benar swasembada. “Pertama, bersihkan pasar dari barang-barang impor. Supaya petani tidak takut menghasilkan,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman optimis target swasembada bisa tercapai dalam waktu dekat. Ia menyebutkan bahwa selisih antara produksi dan kebutuhan saat ini hanya sekitar 100.000 hingga 200.000 ton.

“Saat ini produksi berkisar 2,6 hingga 2,7 juta ton. Konsumsi masyarakat seharusnya mencapai 2,8 hingga 2,9 juta ton per tahun, jadi cukup aman,” kata Amran saat diwawancara di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026.

Menurut Amran, dengan berbagai program peningkatan produksi, pemerintah menargetkan swasembada gula konsumsi sebelum 2027. “Kenaikan produksi yang jelas akan memastikan kita mencapai swasembada gula putih pada 2027,” tutupnya.

Soemitro juga mengingatkan bahwa isu swasembada tidak hanya terkait produksi, tetapi juga penyerapan di pasar. Ia menyebutkan bahwa bahkan saat Indonesia belum benar-benar swasembada, gula petani bisa tidak laku di pasaran. “Bulan kedua, Juli, gula kita sudah tidak terjual. Ini menunjukkan adanya gula lain yang masuk ke pasar,” imbuhnya.

Meski demikian, Soemitro yakin Indonesia mampu mencapai swasembada gula, tetapi membutuhkan tahapan yang jelas. “Kita bisa berhenti mengimpor dan swasembada pada 2030. Tapi harus mulai sekarang agar terlihat progresnya,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *