Key Strategy: Semua Serba AI, Menaker Ogah Pekerja RI Tertinggal: No One Left Behind
Semua Serba AI, Menaker Ogah Pekerja RI Tertinggal: No One Left Behind
Jakarta, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengingatkan bahwa para pekerja Indonesia perlu meningkatkan kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi, otomasi, dan kecerdasan buatan (AI) agar tidak tertinggal dalam persaingan global. Pernyataan ini disampaikan saat membuka Musyawarah Nasional Tahun 2026 Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan (FSP FARKES) KSPSI di Jakarta. Menurutnya, hubungan industrial di masa depan tidak hanya fokus pada stabilitas atau penyelesaian konflik, tetapi harus menjadi fondasi kolaborasi antara pekerja dan perusahaan untuk meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan bersama.
“Hubungan industrial harus naik kelas. Tidak hanya harmonis, tetapi juga transformatif, di mana pekerja dan perusahaan menjadi mitra strategis yang tumbuh bersama,” ujar Yassierli, dikutip Jumat (3/4/2026).
Perubahan ini sangat penting karena struktur pekerjaan terus berubah seiring digitalisasi. Di sektor kesehatan dan farmasi, perkembangan teknologi memaksa cara kerja yang lebih fleksibel dan responsif. Oleh karena itu, inovasi harus diimbangi dengan perlindungan terhadap pekerja. “Ketika dunia berbicara tentang IT, otomasi, dan AI, kita harus memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal. No one left behind. Inovasi dan produktivitas harus berjalan seiring dengan perlindungan pekerja,” katanya.
Yassierli menjelaskan bahwa hubungan industrial yang matang tidak tercipta secara mendadak. Prosesnya dimulai dari kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan, kemudian berkembang melalui komunikasi terbuka, konsultasi dalam pengambilan kebijakan, serta kerja sama dalam mengatasi masalah. Pada tahap tertinggi, pekerja tidak lagi dilihat sebagai faktor produksi, melainkan sebagai aset strategis perusahaan. Dengan perspektif ini, hubungan industrial tidak hanya mencegah konflik, tetapi juga memperkuat daya saing usaha serta menjaga kesejahteraan pekerja secara berkelanjutan.
“Mimpi saya, semua perusahaan maturitas hubungan industrialnya naik kelas. Yang dulunya tidak ada SP/SB jadi ada SP/SB. Yang tidak ada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) jadi punya PKB. Yang sudah punya PKB tapi pasalnya masih kering, sudah ada win-win solution. Naik kelas lagi, mulai berkolaborasi, perusahaan dan pekerja menjadi mitra bersama, mereka juga concern peduli terhadap lingkungan sekitar,” jelasnya.
Menurut Yassierli, peningkatan kesejahteraan pekerja tak terlepas dari peningkatan produktivitas. Hubungan industrial yang sehat harus dibangun dengan semangat saling percaya, mendengarkan, dan mencari solusi, bukan hanya mempertentangkan kepentingan antara pekerja dan perusahaan. Ia mendorong aspirasi pekerja disampaikan secara konstruktif melalui dialog sosial yang mengedepankan gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah mufakat. Dengan pendekatan ini, masalah hubungan industrial diharapkan tidak berlarut-larut, tetapi bisa diselesaikan secara adil dan berkelanjutan.
Yassierli menegaskan bahwa budaya gotong royong dan musyawarah mufakat adalah kekuatan yang mendorong penyelesaian konflik. “Kita memiliki kekuatan budaya gotong royong dan musyawarah. Dengan semangat itu, persoalan hubungan industrial dapat diselesaikan bersama,” ujarnya. Melalui momentum musyawarah nasional, ia berharap serikat pekerja terus memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan, sekaligus mendorong inovasi, produktivitas, serta transformasi cara kerja yang lebih efisien.
Dalam kesimpulan, Yassierli menekankan bahwa hubungan industrial yang transformatif menjadi kunci penting untuk mempersiapkan dunia kerja Indonesia menghadapi perubahan menuju visi Indonesia Maju dan Indonesia Emas.