Key Strategy: Trump Terjebak di Perang Iran, Maju Kena-Mundur Kena
Trump Berpotensi Berhenti Perang dengan Iran, Tapi Dampaknya Masih Memicu Ketakutan
Kota Jakarta, Kesepakatan yang belum tercapai antara AS dan Iran dalam perang berpotensi menimbulkan dampak besar bagi wilayah Timur Tengah, terutama negara-negara di kawasan Teluk yang khawatir Teheran justru memperoleh kekuatan lebih setelah keluar dari konflik. Kekhawatiran ini semakin menyebar setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan mengakhiri perang “dalam waktu singkat”, bahkan membuka kemungkinan berhenti tanpa kesepakatan resmi.
Menurut para analis, jika perang berakhir tanpa jaminan yang pasti mengenai hasil setelahnya, Iran bisa mempertahankan dominasi atas jalur pasokan energi. Negara-negara Teluk, yang tidak terlibat dalam memulai perang, mungkin terkena kerugian ekonomi dan strategis. Pada wawancara Reuters sebelum pidato nasional pada Rabu (1/4/2026), Trump mengatakan AS akan segera menyelesaikan konflik dengan Iran, sekaligus menunjukkan bahwa perang bisa dihentikan meski tanpa kesepakatan.
Analisis Baharoon: Penyelesaian Tanpa Kesepakatan Berisiko Tinggi
Menurut Mohammed Baharoon, direktur B’huth Research Center di Dubai, pengakhiran perang tanpa penjelasan jelas tentang situasi setelahnya adalah ancaman besar bagi negara-negara Teluk. “Masalahnya adalah penghentian perang tanpa hasil nyata,” ujarnya. “Trump mungkin menghentikan perang, tapi itu tidak berarti Iran akan melakukannya.”
“Iran bisa memulai tindakan untuk menguasai perairan teritorial dan menetapkan aturan di Selat Hormuz, jalur energi kritis,” kata Baharoon. “Ini melampaui Hormuz, Iran telah menempatkan tangannya pada titik tekanan ekonomi global.”
Analisis Baharoon menekankan bahwa selama pasukan AS berada di pangkalan-pangkalan di wilayah Teluk, Iran tetap mengancam. Kekhawatiran utama negara-negara kawasan adalah menghindari konflik yang berubah menjadi perang antara Sunni dan Syiah, yang bisa mengubah struktur politik Timur Tengah selama beberapa dekade.
Kekhawatiran Karena Pembunuhan Ali Khamenei
Pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei di awal perang, yang awalnya direncanakan untuk memecah sistem pemerintahan, justru memperkuat respon garis keras Iran. Ia digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, dan tindakan tersebut justru menjadi provokasi yang memicu perlawanan.
“Trump dan Benjamin Netanyahu telah mengubah konflik geopolitik menjadi konflik agama dan peradaban,” tulis Fawaz Gerges, pakar Timur Tengah. “Mereka mengangkat Khamenei dari pemimpin kontroversial menjadi seorang martir.”
Para pejabat regional menyatakan pembunuhan Ali Khamenei justru memberi legitimasi lebih pada kekuatan Iran, menggabungkan elit ulama dan Garda Revolusi dalam narasi perlawanan eksistensial. Mereka menilai asumsi bahwa menghilangkan pemimpin puncak akan memecah struktur kekuasaan Iran salah karena mengabaikan sistem multi-lapis yang telah membuktikan ketahanan panjang, mulai dari perang delapan tahun dengan Irak hingga sanksi AS yang berlangsung puluhan tahun.
Karenanya, Iran justru menjadi lebih marah dan menantang, sementara wilayah tersebut terus menanggung konsekuensi dari pertarungan yang tidak terselesaikan. Kehilangan kontrol navigasi di Selat Hormuz, yang menjadi jalur energi utama, dinilai bisa memperburuk ketegangan global.