sismin.my.id
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: DPR Soroti Kepadatan di Mina, Usul Tenda Bertingkat untuk Jemaah Haji

Published Mei 30, 2026 · Updated Mei 30, 2026 · By Andi Kurniawan

DPR Soroti Kepadatan di Mina, Usul Tenda Bertingkat untuk Jemaah Haji

Persoalan Kepadatan dan Fasilitas Mina Menjadi Fokus Perbaikan

Latest Program - Keluhan tentang keramaian yang terjadi di Mina selama ibadah haji 1447 H/2026 terus menjadi perhatian serius dari Komite VIII DPR. Marwan Dasopang, sebagai ketua komisi tersebut, menyatakan bahwa kepadatan di area Mina tetap menjadi tantangan utama dalam penyelenggaraan ibadah haji. Meskipun secara keseluruhan penyelenggaraan tahun ini berjalan lancar, masalah pengaturan ruang untuk para jemaah masih memerlukan solusi yang lebih efektif. "Kita harus mulai memikirkan formula baru. Jika area Mina tidak bisa diperluas, maka perlu dipertimbangkan berbagai opsi seperti tenda bertingkat atau skema lain yang memungkinkan ruang bagi jemaah menjadi lebih longgar dan manusiawi," ujar Marwan dalam pernyataannya. Ia menekankan bahwa kondisi yang tidak nyaman bagi jemaah haji tidak boleh dianggap remeh, terutama dalam memastikan kenyamanan dan keselamatan selama ibadah.

Penyelenggaraan Ibadah Haji 2026 Dinilai Berjalan Lancar

Sebelumnya, Marwan Dasopang mengakui bahwa penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 secara umum memenuhi ekspektasi. Meski ada tantangan di Mina, ia berpendapat bahwa berbagai aspek lain seperti proses pengambilan paspor, pengaturan penginapan, dan koordinasi dengan otoritas Saudi berjalan cukup baik. Namun, ia menyoroti bahwa kepadatan di Mina masih menjadi momok yang mengganggu. "Meskipun ada kemajuan, kita belum bisa menyebutnya sempurna. Ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki, terutama dalam pengelolaan area yang terbatas," tambahnya. Ia menambahkan bahwa keterbatasan ruang di Mina telah mengakibatkan jemaah mengalami rasa kelelahan yang berlebihan, terutama selama masa ibadah yang padat.

Rekomendasi Tenda Bertingkat sebagai Solusi

Menyikapi masalah tersebut, Marwan mengusulkan penggunaan tenda bertingkat sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi kepadatan di Mina. "Dengan skema ini, kita bisa meningkatkan kapasitas penginapan tanpa memperluas area fisik. Jemaah akan memiliki lebih banyak ruang dan akses ke fasilitas yang lebih nyaman," jelasnya. Ia juga mengungkapkan bahwa opsi ini bisa dipadukan dengan pembagian jemaah ke beberapa titik penginapan yang strategis. Dalam usulan tersebut, Marwan mengatakan sekitar 60.000 jemaah dari Indonesia dapat dipindahkan ke hotel dengan pengaturan yang terorganisir. "Ini adalah langkah awal untuk mengurangi tekanan pada tenda yang saat ini menjadi satu-satunya tempat penginapan," tegasnya.

Fasilitas di Mina Belum Optimal

Selain masalah ruang, Marwan juga mengkritik kinerja beberapa fasilitas di Mina yang belum sepenuhnya memadai. Menurutnya, sistem pendingin udara (AC) yang digunakan masih tidak efisien, sehingga menyebabkan kenaikan suhu di sekitar area penginapan. "Panas yang terlalu tinggi bisa memengaruhi kesehatan jemaah, terutama bagi mereka yang menderita kondisi fisik rentan," katanya. Ia juga menyoroti ketersediaan air yang tidak merata di beberapa titik, yang menyulitkan para jemaah dalam memenuhi kebutuhan hidrasi. "Kita harus memastikan bahwa fasilitas seperti air dan pendinginan bisa diakses secara merata, agar seluruh jemaah merasa nyaman dan terlayani dengan baik," tambahnya.

Koordinasi dan Regulasi Menjadi Kunci

Marwan menekankan bahwa implementasi skema tenda bertingkat serta penginapan di hotel memerlukan persiapan yang matang. "Ini bukan hanya soal desain, tapi juga koordinasi antara Kementerian Haji dan Umrah dengan otoritas Arab Saudi," katanya. Ia mengungkapkan bahwa kehadiran Kementerian Haji dan Umrah menjadi faktor penting dalam memastikan rencana ini bisa terwujud. "Mereka harus aktif dalam negosiasi dan komunikasi dengan pihak Saudi, agar semua kebijakan yang diusulkan bisa disetujui secara cepat," ujarnya. Marwan juga mengatakan bahwa perubahan ini memerlukan kajian mendalam terkait regulasi, perizinan, serta keamanan di area Mina.

Perlu Langkah Inovatif untuk Mengatasi Persoalan yang Berulang

Persoalan kepadatan di Mina bukanlah sesuatu yang baru. Menurut Marwan, masalah ini sering terjadi setiap musim haji, sehingga perlu solusi yang konsisten dan tidak sekadar sementara. "Jika kita tidak berani mencari terobosan, maka masalah ini akan terus berulang tanpa solusi jangka panjang," katanya. Ia menambahkan bahwa inovasi seperti tenda bertingkat atau penggunaan hotel bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi kerumunan di Mina. "Tujuannya adalah agar jemaah bisa mengikuti ibadah dengan nyaman, tanpa merasa terbebani oleh kondisi lingkungan yang tidak sehat," jelasnya.

Keberhasilan Penyelenggaraan Tergantung pada Kolaborasi

Marwan meminta semua pihak untuk bekerja sama dalam memperbaiki kondisi di Mina. "Ini adalah tugas bersama, antara pemerintah Indonesia, Kementerian Haji dan Umrah, serta Arab Saudi," ujarnya. Ia mengatakan bahwa koordinasi yang kuat dan dukungan regulasi menjadi kunci suksesnya. "Kita harus memiliki komunikasi yang intensif, agar semua kebijakan bisa diadaptasi sesuai dengan kebutuhan jemaah. Jika ini tercapai, Mina akan menjadi tempat yang lebih baik untuk ibadah haji," lanjutnya. Marwan juga mengingatkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada rencana, tetapi juga pada pelaksanaan yang tepat.

Perkembangan Kondisi di Mina Sebagai Uji Coba

Dalam konteks ini, Marwan menilai bahwa penyelenggaraan ibadah haji tahun ini bisa menjadi uji coba bagi perubahan yang lebih besar. "Kita bisa melihat hasilnya, lalu mengevaluasi apakah skema seperti tenda bertingkat atau penginapan di hotel bisa diimplementasikan pada musim haji berikutnya," katanya. Ia berharap bahwa dengan adanya usulan ini, Arab Saudi akan lebih terbuka untuk bekerja sama dalam menemukan solusi yang lebih efektif. "Dari 201.000 jemaah Indonesia, kita perlu memastikan bahwa setidaknya 60.000 di antaranya bisa mendapatkan penginapan yang lebih baik. Ini akan mengurangi beban di tenda dan meningkatkan kenyamanan secara keseluruhan," jelasnya.

Komentar tentang Fasilitas dan Strategi Masa Depan

Di samping ruang penginapan, Marwan juga menyoroti fasilitas pendukung lainnya di Mina yang perlu ditingkatkan. "Pengaturan logistik, termasuk transportasi, makanan, dan sanitasi, juga menjadi faktor penting yang belum sepenuhnya optimal," katanya. Ia menekankan bahwa fasilitas ini harus dijalankan secara terpadu agar jemaah tidak merasa terganggu. "Jika fasilitas di Mina bisa diatur dengan lebih baik, maka keselamatan dan kenyamanan jemaah akan meningkat drastis," tambahnya. Marwan berharap bahwa pihak Saudi bisa lebih proaktif dalam mengidentifikasi masalah dan memberikan solusi yang berkelanjutan.

Penutup: Kebutuhan Perbaikan yang Tidak Bisa Diabaikan

Dalam kesimpulannya, Marwan menyatakan bahwa kepadatan di Mina tidak boleh dibiarkan terus-menerus tanpa upaya perbaikan. "Kita harus berani mencari terobosan, meskipun harus mengubah pola kerja yang sudah ada. Ini adalah investasi untuk masa depan jemaah Indonesia,"