Latest Program: Drone Ukraina Hantam Kilang Rusia, Ekspor Minyak Terpukul

Drone Ukraina Hantam Kilang Rusia, Ekspor Minyak Terpukul

Ukraina terus meningkatkan serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) ke fasilitas energi Rusia di wilayah Baltik, yang mengakibatkan gangguan ekspor dan kerugian besar bagi Moskow. Serangan ini menargetkan terminal minyak utama di Ust-Luga dan Primorsk, dua pusat pengiriman energi kritis yang menjadi jalur utama ekspor minyak ke pasar internasional.

Menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA), kedua fasilitas tersebut memproses sekitar dua perlima minyak yang dikirim Rusia melalui laut serta hampir 2% dari pasokan global. Akibatnya, gangguan di area tersebut mulai terasa hingga St Petersburg, kota kedua terbesar Rusia. Seorang warga, Konstantin, melaporkan aroma bahan bakar dan bahan kimia terbakar dari apartemennya selama beberapa minggu terakhir.

“Saya tidak terduga bahwa perang bisa merasuki kehidupan sehari-hari di sekitar saya,” katanya kepada Al Jazeera, Selasa (7/4/2026).

Kerusakan di terminal Baltik menyebabkan penurunan drastis ekspor minyak Rusia sejak akhir Maret. Laporan Bloomberg menyebutkan kerugian mencapai US$1 miliar atau sekitar Rp17 triliun. Untuk mengatasi masalah ini, Rusia beralih ke pelabuhan-pelabuhan lebih kecil, tetapi kapasitasnya terbatas.

Reuters menambahkan bahwa pelabuhan alternatif di Baltik dan Laut Hitam tidak mampu menampung volume pengiriman yang meningkat. Serangan drone ini adalah bagian dari strategi Kyiv untuk memangkas pendapatan energi Moskow, terutama dalam konteks konflik yang terus berlangsung.

Peneliti dari University of Bremen, Nikolay Mitrokhin, menjelaskan bahwa intensitas serangan meningkat karena lonjakan harga minyak global akibat ketegangan di Timur Tengah. “Frekuensi serangan terkait dengan perang Iran serta peluang baru Rusia untuk menghasilkan keuntungan,” ujarnya.

Setiap kenaikan harga minyak US$10 per barel berpotensi menambah pendapatan Rusia hingga US$1,6 miliar per bulan atau sekitar Rp27 triliun. Oleh karena itu, serangan ke infrastruktur energi dianggap sebagai tindakan langsung untuk mengurangi sumber dana perang Moskow.

Ukraina kini menggunakan drone jarak jauh dengan jangkauan 1.500 km dan muatan bahan peledak besar. Serangan telah menghancurkan minimal 13 lokasi, termasuk delapan kilang minyak utama. Langkah ini juga menjadi alat tawar dalam negosiasi dengan Kremlin, di mana Presiden Volodymyr Zelenskyy disebut sedang berusaha menekan serangan terhadap fasilitas energi.

Tapi analis politik Rusia mengungkapkan bahwa Vladimir Putin tidak akan mudah menyetujui kebijakan tersebut. “Putin tidak akan meninggalkan perundingan, namun dia tidak akan mengakui apa pun,” kata seorang spesialis.

Dalam wilayah konflik seperti Krimea, warga melaporkan peningkatan aktivitas militer hampir setiap malam. “Kami melihat kembang api di langit setiap malam. Penembakan terus-menerus terjadi,” tulis sumber tersebut. Serangan terus-menerus menunjukkan eskalasi baru dalam perang Rusia-Ukraina, di mana sektor energi kini menjadi sasaran utama untuk menekan kemampuan finansial Moskow.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *