Latest Program: Hormuz Minggir! Iran Ancam Blokir Selat ‘Urat Nadi’ Perdagangan Dunia
Hormuz Minggir! Iran Ancam Blokir Selat ‘Urat Nadi’ Perdagangan Dunia
Tegangan di wilayah Timur Tengah memuncak setelah sekutu Iran memperingatkan akan menutup jalur pelayaran strategis Bab al-Mandeb. Tindakan ini terjadi setelah Teheran sebelumnya menghambat aliran di Selat Hormuz, yang bisa mengganggu suplai energi global. Pernyataan ancaman dikeluarkan oleh penasihat utama Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei pada Senin (06/04/2026), mengutip laporan Al Jazeera.
Pernyataan dari Ali Akbar Velayati
Ali Akbar Velayati, mantan Menteri Luar Negeri Iran dan diplomat senior, memberikan peringatan melalui unggahannya di media sosial X. Ia menegaskan bahwa “komando depan perlawanan menganggap Bab al-Mandeb memiliki signifikansi setara dengan Selat Hormuz. Jika Gedung Putih berani mengulangi kesalahan konyolnya, mereka akan segera menyadari bahwa aliran energi dan perdagangan global bisa terganggu hanya dengan satu gerakan,” tulis Velayati. Pernyataan ini kemudian dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran, Press TV.
“Pembicaraan tentang potensi eskalasi membuat Houthi menembak rudal ke Israel sebagai pertanda. Jika tidak ada kesepakatan, serangan skala besar terhadap Iran bisa terjadi,” jelas Nabeel Khoury, mantan diplomat Amerika Serikat.
Jalur Strategis yang Berperan Penting
Bab al-Mandeb, sebuah selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia, menjadi pusat perhatian karena keberadaannya. Lokasi ini berada di antara Yaman di utara dan Djibouti serta Eritrea di selatan. Lebar selat ter sempit hanya 29 kilometer, sehingga hanya dua jalur yang bisa digunakan untuk mengalirkan barang.
Wilayah ini dikendalikan oleh kelompok Houthi, yang mendapat dukungan dari Iran. Kelompok ini merupakan bagian utama dari “Poros Perlawanan” Iran, koalisi yang selaras dengan ideologi dan strategi Teheran. Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi fokus utama, kini memperoleh penekanan lebih besar setelah ancaman penutupan Bab al-Mandeb muncul.
Impak pada Pasokan Energi Global
Data 2024 menunjukkan sekitar 4,1 miliar barel minyak mentah dan produk minyak sulingan melewati Bab al-Mandeb, atau 5% dari total global. Selain energi, 10% perdagangan internasional seperti kontainer dari Tiongkok dan India ke Eropa juga bergantung pada rute ini.
Jika Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb tertutup bersamaan, sekitar 25% pasokan minyak dan gas dunia akan terhenti. Arab Saudi telah memindahkan ekspor minyaknya melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah menggunakan East West Pipeline. Pipa sepanjang 1.200 kilometer ini beroperasi penuh sebesar 7 juta barel per hari, rekor tertinggi hingga kini.
Kemungkinan Serangan oleh Kelompok Houthi
Nabeel Khoury menambahkan bahwa senjata utama Houthi adalah blokade Bab al-Mandeb. “Yang perlu mereka lakukan hanyalah menembakkan rudal ke beberapa kapal, yang akan memutus seluruh pelayaran komersial melalui Laut Merah. Ini akan menjadi titik kritis, diikuti serangan terhadap Yaman oleh Amerika Serikat dan Israel,” ujar Khoury.
Kebuntuan Ekonomi Dunia
Dunia kini berada di ambang krisis ekonomi yang lebih dalam jika ancaman ini terwujud. Elisabeth Kendall, spesialis Timur Tengah dan Presiden Girton College di Universitas Cambridge, menyebut situasi ini sebagai skenario terburuk untuk perdagangan global. “Ketika Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb mengalami pembatasan bersamaan, perekonomian dunia akan benar-benar terganggu,” tambahnya.