Latest Program: Minyak Rusia Jadi Rebutan, Putin Ogah Jual ke Negara-Negara

Minyak Rusia Jadi Rebutan, Putin Ogah Jual ke Negara-Negara

Jakarta – Dalam kondisi permintaan global minyak yang sedang meningkat akibat konflik di Timur Tengah, pemerintah Rusia menyatakan tidak akan mengirimkan minyak ke negara-negara tertentu. Negeri-negeri tersebut dianggap mendukung skema pembatasan harga yang bertujuan menghambat pasokan energi. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrey Rudenko, menjelaskan bahwa pasar energi tengah berfluktuasi karena pasokan yang terbatas dan peningkatan harga.

“Pasar energi sedang mengalami fluktuasi karena pasokan yang terbatas dan kenaikan harga. Rusia tidak akan menjual minyak kepada negara-negara provokatif,” ujar Rudenko kepada Izvestia, dikutip Sabtu (4/4/2026).

Moskow juga menunjukkan sikap tegas terhadap negara-negara yang mendukung Ukraina, termasuk anggota G7 dan Australia. Negara-negara ini sempat membatasi impor minyak serta gas Rusia selama perang antara kedua pihak pada 2022 lalu. Saat itu, negara-negara Barat menerapkan pembatasan pembelian dan memaksa Rusia menjual minyak mentah dengan harga maksimal US$44 per barel.

Saat ini, minyak mentah Urals Rusia dijual ke India dan pembeli lainnya dengan harga yang lebih tinggi. Harga mencapai US$121,5 per barel pada 19 Maret 2026, melonjak dari US$12 pada awal Maret lalu. Rudenko menyebutkan kemungkinan negosiasi dengan negara-negara yang dianggap tidak bersahabat, seperti Jepang. Ia menegaskan bahwa Tokyo masih terikat oleh aturan pembatasan harga, yang menurutnya mengganggu keberlanjutan pasokan global.

“Tokyo terikat oleh pembatasan harga, yang merupakan tindakan antipasar dan mengganggu rantai pasokan,” tambah Rudenko.

Krisis minyak dunia terjadi setelah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Serangan pada 28 Februari lalu diikuti oleh respons Iran, termasuk pemblokiran Selat Hormuz. Selat Hormuz menjadi jalur utama pengiriman 20% dari pasokan minyak harian global. Penutupan tersebut menyebabkan harga minyak melonjak hampir 50% hingga mencapai US$120 per barel di awal bulan ini.

Menyikapi hal itu, Amerika Serikat mencabut sementara sanksi pada minyak Rusia yang dimuat ke tanker sebelum 12 Maret. Lisensi penjualan diperpanjang hingga 11 April 2026 mendatang. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menjelaskan langkah ini sebagai strategi untuk mengalirkan arus kas ke Rusia. Ia menambahkan bahwa tindakan ini memberi tambahan pendapatan bagi negara tersebut selama ketegangan global berlangsung.

Langkah AS juga mendorong sejumlah negara Asia, seperti Indonesia, Thailand, Filipina, hingga Vietnam, untuk mengamankan pasokan minyak dari Rusia. India dan Tiongkok, sebagai importir utama, terus menerima kargo minyak dengan skema pengecualian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *