Latest Program: Trump Ultimatum Iran Soal Selat Hormuz: Cepat Buka atau Jadi Neraka!

Trump Ultimatum Iran Soal Selat Hormuz: Cepat Buka atau Jadi Neraka!

Kontroversi Terkini dari Trump

Dari Jakarta, Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, melontarkan ancaman tajam terhadap Iran pada hari Minggu, 05 April 2026. Dalam unggahan di akun media sosial Truth Social, ia memberikan tenggat waktu hingga Selasa malam agar Iran membuka kembali Selat Hormuz. Jika tidak, Trump mengancam akan memusnahkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di negara tersebut. Teguran keras ini menegaskan bahwa militer AS siap melakukan serangan ekstrem jika persyaratan Washington tidak dipenuhi dalam waktu singkat.

“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat Sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka – LIHAT SAJA! Puji Tuhan. Presiden DONALD J. TRUMP,” tulis Trump mengutip The Guardian.

Tenggat Waktu Diperketat

Trump mengubah tenggat waktu yang sebelumnya hari Senin menjadi Selasa malam dalam postingan yang sangat agresif. Ia memberi detail waktu spesifik: “Selasa, 8:00 malam Waktu (Pantai) Timur!” tambahnya dalam unggahan susulan, untuk memperjelas durasi ancaman tersebut.

“Ada peluang bagus untuk kesepakatan pada hari Senin. Jika mereka tidak cepat menyetujui, saya pertimbangkan meledakkan segalanya dan mengambil minyaknya,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Kritik dari Dalam Negeri

Sementara itu, reaksi tajam datang dari dalam Amerika Serikat. Pemimpin Minoritas Senat Partai Demokrat, Chuck Schumer, menyebut tindakan Trump sebagai langkah yang tidak terkendali. Menurutnya, ancaman terhadap infrastruktur sipil sangat merusak reputasi negara.

“Selamat Paskah, Amerika. Saat Anda pergi ke gereja dan merayakan bersama teman serta keluarga, Presiden AS justru mengoceh seperti orang gila di media sosial. Dia mengancam kemungkinan kejahatan perang dan mengasingkan sekutu,” tegas Schumer melalui platform X.

Perspektif Legal dan Peringatan dari Iran

Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa tindakan Trump bisa menghancurkan wilayah Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa gertakan AS akan membawa konsekuensi serius bagi negara-negara di kawasan tersebut.

“Langkah sembrono Anda menyeret Amerika Serikat ke dalam NERAKA yang nyata bagi setiap keluarga, dan seluruh wilayah kami akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu. Jangan salah: Anda tidak akan mendapatkan apa pun melalui kejahatan perang. Satu-satunya solusi nyata adalah menghormati hak rakyat Iran dan mengakhiri permainan berbahaya ini,” tulis Ghalibaf.

Konteks Serangan pada Selat Hormuz

Trump secara blak-blakan mengakui perannya dalam serangan jembatan suspensi B1 senilai US$ 400 juta (Rp 6,8 triliun) yang terjadi pada hari Kamis lalu. Ia menyebut tindakan itu sebagai bentuk intimidasi, karena Iran dianggap memperlambat proses negosiasi.

“Tetapi kemudian mereka bilang akan menemui kami dalam lima hari. Jadi saya bilang, ‘Kenapa lima hari?’ Saya merasa mereka tidak serius. Jadi saya serang jembatannya,” pungkas Trump saat berbicara kepada Axios.

Analisis Hukum Internasional

Para ahli juga mempertanyakan legalitas serangan yang direncanakan Trump. Dari Yale, pakar hukum internasional Oona A. Hathaway menekankan bahwa serangan terhadap objek sipil bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang. Menurutnya, menyengsarakan penduduk sipil demi tujuan politik adalah pelanggaran berat hukum internasional.

“Jika serangan yang diancamkan benar-benar terjadi, maka itu akan menjadi kejahatan perang. Menyengsarakan penduduk sipil demi kepentingan tawar-menawar adalah tindakan yang tidak sah secara hukum,” kata Hathaway.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *