Latest Update: Gencatan Senjata AS-Iran Terancam? Gelombang Rudal Serang UEA-Saudi

Gencatan Senjata AS-Iran Terancam? Gelombang Rudal Serang UEA dan Saudi

Pada hari Rabu (8/04/2026), sejumlah negara di wilayah Teluk melaporkan serangan masif yang melibatkan rudal serta pesawat tak berawak (drone) dari Iran. Serangan ini secara cepat memicu aktivitas sistem pertahanan udara di seluruh kawasan, hanya dalam hitungan jam setelah kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran diumumkan. Menurut CNBC International, situasi di kawasan Teluk terasa tegang, dengan sistem pertahanan udara Uni Emirat Arab (UEA) bekerja keras menghalau objek-objek yang melintas di langit.

Kementerian UEA segera meminta warga mencari perlindungan di tempat aman. “Suara-suara yang terdengar di berbagai wilayah negara ini berasal dari sistem pertahanan udara UEA yang menangkal rudal balistik, rudal jelajah, dan drone,” kata Abu Dhabi, dilansir dari sumber tersebut. Serangan serupa juga terjadi di Arab Saudi, di mana organisasi Pertahanan Sipil nasional mengeluarkan peringatan darurat untuk seluruh wilayah negeri.

“Kami tidak menginginkan permusuhan dengan Iran, namun dengan rezim saat ini, tidak ada rasa kepercayaan,” ujar Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash.

Kondisi serupa mengancam negara-negara tetangga seperti Kuwait, Bahrain, dan Qatar, yang juga mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka saat ancaman rudal mulai terdeteksi di seluruh wilayah regional. Serangan ini terjadi di tengah rencana Washington dan Teheran untuk mencapai gencatan senjata sementara, yang sempat menjadi harapan untuk menjaga stabilitas.

Kesepakatan tersebut dicanangkan tepat sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk meluncurkan serangan masif jika negosiasi gagal. Trump menyatakan bahwa gencatan senjata yang dimediasi Pakistan bergantung pada pembukaan Selat Hormuz secara “lengkap, segera, dan aman”.

Teheran memberikan syarat dalam penghentian aksi militer mereka. Pihak Iran menegaskan bahwa pergerakan angkatan bersenjata mereka tergantung pada tindakan lawan. Dalam pernyataan pada hari Rabu, para pejabat Iran menyebutkan bahwa jika serangan terhadap Iran dihentikan, maka Angkatan Bersenjata mereka akan berhenti dari “operasi pertahanan”.

Dalam pernyataan yang disampaikan, Iran menyelipkan klausul yang “memungkinkan mereka mendefinisikan kepatuhan sesuai kehendak sendiri”. Di sisi lain, stok senjata pencegat di negara-negara Teluk dilaporkan mulai kritis. Data dari Jewish Institute for National Security of America menunjukkan bahwa UEA dan Kuwait telah menghabiskan 75% stok rudal Patriot mereka, sementara Bahrain menguras hingga 87% persediaan untuk menghadapi serangan Iran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *