Main Agenda: Dikit Lagi Tuntas, RKAB Batu Bara Sudah Disetujui Hampir 600 Juta Ton

Rencana Kerja dan Anggaran Batu Bara Hampir Tuntas

Jakarta, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan bahwa persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk perusahaan pertambangan batu bara sudah mendekati selesainya. Menurut Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, proses ini berada di fase akhir, hanya menunggu perusahaan tambang melengkapi dokumen administratif yang masih kurang. “Sudah hampir selesai. Ya, ada beberapa yang belum lengkap, tapi sudah hampir tuntas,” ujar Tri saat ditemui di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Target Produksi Batu Bara 2026

Pemerintah merencanakan penurunan target produksi batu bara tahun 2026 menjadi sekitar 600 juta ton. Angka ini lebih rendah 190 juta ton dibandingkan produksi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, pengurangan ini bertujuan meningkatkan harga batu bara dan memastikan cadangan energi tetap stabil. “Suplai dan permintaan tidak seimbang, akibatnya harga batu bara turun. Kita perlu menurunkan produksi agar harga kembali naik,” katanya, dikutip Senin (19/1/2026).

Relaksasi Kuota Produksi

Kebijakan relaksasi atau pelonggaran kuota produksi batu bara masih dalam penyusunan mekanisme teknisnya. Tri Winarno mengatakan pihaknya belum menentukan waktu pasti pelaksanaan perubahan RKAB ini. “Mekanisme belum diumumkan, tapi kita sedang berupaya agar revisi bisa berjalan terukur,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa pemerintah tetap hati-hati dalam mengatur volume produksi untuk menghindari kelebihan pasokan yang bisa merusak keseimbangan pasar.

Alokasi Pasokan dalam Negeri

Tri juga memastikan bahwa pasokan batu bara untuk kebutuhan domestik, khususnya PT PLN (Persero), telah terjamin. Menurutnya, proses penjaminan pasokan saat ini berada di tahap finalisasi kontrak. “Kontrak antara PLN dan pihak pemasok sudah hampir selesai, sehingga pasokan dalam negeri aman,” jelas Tri. Hal ini berdampak positif pada stabilitas harga batu bara di pasar lokal.

Analisis Pasar Global

Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa Indonesia menjadi salah satu penyuplai utama batu bara dunia, dengan volume sekitar 514 juta ton atau 43% dari total perdagangan global sebesar 1,3 miliar ton per tahun. “Karena itu, kita perlu menyesuaikan produksi agar harga tidak terus turun,” tuturnya. Ia menekankan bahwa revisi RKAB akan dilakukan secara bertahap untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar internasional.

“Hampir finish. Ya kan ini ada beberapa yang belum lengkap dan lain sebagainya, suruh lengkap-lengkapin tapi sudah hampir selesai lah,” ujar Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Selasa (7/4/2026).

“Mekanismenya belum. Ini kan supply demand, begitu nanti supply-nya over lagi ya pasti turun lagi (harganya),” jelas Tri.

“Akibatnya apa supply and demand tidak terjaga, artinya harga batu bara turun. Lewat kesempatan berbahagia ini, Kementerian ESDM sudah rapatkan dengan Dirjen Minerba, kita akan lakukan revisi terhadap kuota RKAB. Jadi, produksi kita akan turunkan supaya harga bagus dan tambang kita untuk cucu kita,” ujar Bahlil, dikutip Senin (19/1/2026).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *