Main Agenda: Juru Nego Arab Tiba-Tiba Temui Iran, Minta Ikut Atur Selat Hormuz
Juru Nego Arab Tiba-Tiba Temui Iran, Minta Ikut Atur Selat Hormuz
Di tengah situasi krisis di Selat Hormuz, Pemerintah Oman dan Iran mengadakan pertemuan tingkat tinggi untuk memastikan lancarnya pengangkutan kapal. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap blokade yang diterapkan Teheran terhadap jalur air strategis tersebut, sebagai bagian dari konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Pertemuan antara kedua negara berlangsung pada Minggu (5/4/2026) setelah sebelumnya dilakukan koordinasi teknis di tingkat sekretaris jenderal kementerian luar negeri. Para spesialis dari Oman dan Iran hadir untuk membahas opsi pengaturan jalur laut yang memungkinkan perlintasan kapal tanpa hambatan.
“Berbagai alternatif telah dibahas dalam pertemuan tersebut untuk memastikan kestabilan perjalanan kapal di Selat Hormuz. Para ahli kedua belah pihak memberikan proposisi dan visi yang akan dievaluasi sebagai langkah awal,” tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Oman.
Dari data pelacakan Lloyd’s List, tiga kapal Oman—dua tanker minyak besar dan satu pengangkut gas alam cair (LNG)—melintasi Selat Hormuz di luar zona yang diizinkan Iran. Gerakan ini dianggap mencolok karena kapal-kapal tersebut mendekati garis pantai Oman, yang sebelumnya terbatas aksesnya selama blokade.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah membatasi pergerakan kapal secara ketat sejak perang dimulai 28 Februari. Hanya kapal dari Pakistan, Prancis, dan Turki yang diperbolehkan melintas, sementara sekitar 3.000 kapal lainnya terjebak dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Hal ini menyebabkan ketegangan global, terutama dari Washington, yang mengkhawatirkan gangguan ekonomi akibat hal tersebut.
Presiden AS Donald Trump pun menebar ancaman keras jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. “Trump mengancam melepaskan ‘semua neraka’ jika jalur tersebut tidak dilayani pada hari Senin,” demikian laporan media sosial menggambarkan tekanan politik yang meningkat.
Di sisi lain, Mesir terus berupaya mendinginkan ketegangan regional. Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty melakukan panggilan telepon terpisah dengan Steve Witkoff, Utusan Khusus AS, serta Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, untuk mendorong solusi perdamaian. Namun, para ahli internasional mengingatkan bahwa peluang ini masih sangat terbatas tanpa kompromi besar dari pihak konflik.
Amin Saikal, profesor emeritus dari Australian National University, memperingatkan bahwa jika perang meluas ke kawasan lain, dampaknya akan sangat besar. “Perluasan konflik akan menjadi neraka bagi seluruh wilayah. Solusi harus dirundingkan, tapi saat ini pintu untuk perdamaian tampak sempit,” katanya.