Main Agenda: Jusuf Kalla, Makna Syahid, dan Pentingnya Menjaga Narasi Perdamaian

Jusuf Kalla, Makna Syahid, dan Pentingnya Menjaga Narasi Perdamaian

Dalam era media sosial yang cepat menyebar, satu video bisa memicu perubahan makna, mempercepat perpecahan, atau merusak kesatuan masyarakat. Dalam hal ini, cuplikan pidato Jusuf Kalla yang viral menjadi bahan interpretasi yang perlu dijernihkan secara jelas dan adil. Pernyataan beliau tentang konsep “syahid” sering dianggap sebagai pengakuan bahwa “Islam dan Kristen berpendapat mati atau mematikan dalam pertikaian adalah syahid,” padahal konteks sejarah di baliknya justru membuktikan kebalikannya.

Konteks sejarah yang menjadi penjelasan utama adalah konflik Ambon dan Poso. Dalam situasi itu, Pak JK menyoroti cara berpikir kelompok-kelompok yang terlibat dalam perang horizontal, di mana tindakan mereka dianggap benar berdasarkan keyakinan yang salah. Beliau menggambarkan psikologi konflik, bukan ajaran agama. Dengan demikian, pernyataan tersebut tidak menjurus ke doktrin Islam, melainkan merefleksikan pemahaman yang keliru dari pihak-pihak yang bertikai.

Peran Jusuf Kalla dalam Proses Rekonsiliasi

Jusuf Kalla tidak hanya menjadi tokoh yang menyuarakan perdamaian, tetapi juga pengaruh besar dalam membangun dialog antarumat beragama. Selama konflik Poso, beliau memimpin upaya yang menghasilkan Deklarasi Malino I pada tahun 2001, menghentikan pertumpahan darah antara Muslim dan Kristen. Satu tahun berikutnya, Deklarasi Malino II tahun 2002 berperan penting dalam mendorong rekonsiliasi setelah konflik Ambon yang menewaskan ribuan korban.

Saya sendiri cukup akrab dengan Pak Jusuf Kalla. Pernah berkesempatan mendampinginya dalam acara seminar dan forum tentang perdamaian. Selain itu, beliau juga menjadi penengah dalam pertemuan dengan tokoh dari negara tetangga untuk membangun komunikasi yang damai. Dari pengalaman tersebut, saya melihatnya sebagai sosok negarawan yang konsisten dalam mempromosikan jalan damai, dialog, serta penyelesaian konflik melalui komunikasi beradab.

Makna Asli Kata Syahid

Kata “syahid” memiliki akar bahasa Arab yang berarti menyaksikan atau menjadi saksi. Dalam konteks Islam, istilah ini menyimbolkan kemuliahan bagi mereka yang wafat dalam menjalankan kebenaran. Seperti dalam firman Allah:

“Barangsiapa membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia.”

(QS. Al-Ma’idah: 32). Justru, Alquran menekankan orientasi perdamaian dengan ayat lain:

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya.”

(QS. Al-Anfal: 61).

Dalam tradisi agama, “syahid” bukanlah alasan untuk membunuh secara membabi-buta. Makna asli istilah ini adalah kebenaran yang diperjuangkan, bukan kebencian atas identitas. Dengan demikian, tafsiran sebagian orang yang menganggap syahid sebagai alasan untuk memperparah konflik adalah salah. Ini adalah framing yang tidak tepat, karena menggabungkan refleksi sosiologis dengan ajaran resmi agama.

Karena itu, mengaitkan Pak JK dengan memantik konflik adalah kesalahan. Sejarah menunjukkan bahwa beliau justru menjadi simbol perekonsiliasian nasional. Tidak mungkin beliau berniat menstigma agama lain. Pesan utamanya adalah bahwa perang dan kekerasan atas nama identitas tidak benar, baik dalam Islam maupun Kristen. Yang salah adalah manusia yang menyalahgunakan agama untuk membenarkan kebencian, seperti yang dahulu berhasil beliau tunjukkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *