Main Agenda: Perundingan di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, Iran Ogah Ikuti AS
Perundingan di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, Iran Ogah Ikuti AS
Konflik Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat (AS) masih berlangsung, dengan negosiasi di Islamabad tidak berhasil mencapai kesepakatan. Kegagalan ini disebabkan oleh kecurigaan Iran bahwa AS mencari alasan untuk mengakhiri perundingan. Menurut Al-Jazeera yang mengutip sumber dari kantor berita Iran, kesepakatan bergantung pada perubahan tuntutan AS, yang dinilai tidak masuk akal oleh Iran.
Kawasan Selat Hormuz, yang merupakan jalur pengangkutan minyak vital, menjadi salah satu isu yang memicu perdebatan. Namun, hingga saat ini, kedua pihak masih berusaha menemukan titik temu. Mediator Pakistan berupaya mengurangi perbedaan pendapat dan mendekatkan posisi antara Iran dan AS. Kedua delegasi yang terlibat dalam negosiasi kembali ke tim ahli masing-masing untuk merevisi teks yang diajukan. Pembahasan lanjutan akan dimulai setelah draf tersebut selesai.
Sumber dekat dengan delegasi Iran mengungkapkan bahwa AS menuntut hal-hal yang dianggap mustahil. Dalam pembicaraan di Islamabad, Iran menolak syarat ambisius Amerika terkait Selat Hormuz, energi nuklir damai, dan beberapa topik lain. Sebagai respons, Wapres AS JD Vance menyatakan Washington telah mengajukan penawaran terakhir yang disebut “sederhana” dan “final”.
“Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan penawaran final dan terbaik kami. Kita akan lihat apakah pihak Iran menerimanya,” kata Vance setelah 21 jam perundingan, menurut AFP, Minggu (12/4/2026).
Vance juga menekankan bahwa sengketa utama dalam negosiasi berkaitan dengan senjata nuklir. Iran menegaskan tidak sedang memproduksi bom atom, sementara AS mengharapkan komitmen tegas dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir atau alat pendukungnya. Meski demikian, hingga akhir perundingan, AS belum memperoleh bukti tersebut.
Sebelumnya, AS mengumumkan penundaan serangan bersama Israel selama dua minggu untuk memberikan ruang diskusi. Langkah ini dianggap bagian dari upaya diplomatik terakhir sebelum pengambilan keputusan lebih lanjut. Vance juga menyebut Presiden Donald Trump bersikap akomodatif, mengatakan pihak AS sudah berusaha maksimal. “Kami telah melakukannya, sayangnya kami tidak mampu membuat kemajuan,” tambahnya.