Main Agenda: Presiden Korsel Singgung Suplai LNG & Batu Bara RI Saat Temui Prabowo
Presiden Korsel Singgung Suplai LNG & Batu Bara RI Saat Temui Prabowo
Dalam pertemuan bilateral di Blue House, Seoul, pada Rabu (1/3/2026), Presiden Republik Korea Selatan Lee Jae Myung menyampaikan harapan untuk meningkatkan kerja sama di sektor sumber daya energi. Hal ini dilakukan dalam konteks ketidakpastian global yang dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah.
Lee Jae Myung menekankan bahwa hubungan diplomatik antara Indonesia dan Korsel, yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun, merupakan salah satu keuntungan strategis. Di tengah perubahan cepat dalam lingkungan internasional, ia menilai kerja sama antara kedua negara memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan.
“Dalam situasi ketidakpastian dan berbagai hambatan, Korea Selatan dan Indonesia menjadi berkah bagi masing-masing. Kemitraan kita yang saling menghargai nilai-nilai demokrasi, perdagangan bebas, serta aturan internasional sangat kritis,” ujar Lee.
Presiden Korsel menyoroti stabilitas pasokan energi yang ditawarkan Indonesia, terutama melalui LNG dan batu bara. Ia menyerukan perluasan kerja sama bilateral dalam bidang ini untuk mengurangi dampak krisis terhadap kehidupan rakyat dan ekonomi.
“Kami merasa tenang karena Indonesia mampu menyediakan LNG dan batu bara secara konsisten. Untuk menjaga kestabilan, kita perlu memperkuat kolaborasi dalam memastikan pasokan energi yang andal,” tambah Lee.
Prabowo Subianto, Presiden Indonesia, merespons dengan menyatakan bahwa Korsel merupakan ‘sahabat dekat’ yang memiliki kepentingan bersama. Ia menekankan bahwa meskipun hubungan jangka panjang bisa mengalami fluktuasi, kejujuran dan keterbukaan tetap menjadi fondasi utama.
“Tentu saja, dalam setiap hubungan terdapat fase naik turun. Namun, sebagai sahabat, kita dapat mencapai kesepahaman melalui kerja sama yang jujur. Bahkan dalam keluarga, tak selalu segala sesuatu berjalan mulus,” ujar Prabowo.
Kedua pemimpin sepakat bahwa kepentingan bersama antar negara adalah kunci keberlanjutan kerja sama. Prabowo menegaskan bahwa hubungan yang saling menguntungkan dapat bertahan di tengah perubahan politik dan ekonomi global.