Meeting Results: ID FOOD “Ngadu” ke DPR-Kesulitan Efek Plastik Langka, Bulog Bagaimana?

ID FOOD “Ngadu” ke DPR-Kesulitan Efek Plastik Langka, Bulog Bagaimana?

Jakarta – Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), Ghimoyo, mengungkapkan keluhan kepada DPR RI terkait kenaikan harga dan kelangkaan bahan baku plastik yang mulai mengganggu proses produksi industri pangan. Keluhan ini dibahas dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (7/4/2026).

“Kami kesulitan. Yang sekarang lagi viral, bukan lagi viral, lagi terasa di pihak kami sebagai pemain pangan, yaitu kesulitan kemasan (plastik),” ujar Ghimoyo.

Ghimoyo menjelaskan, seluruh sektor pangan bergantung pada kemasan plastik, mulai dari karung beras hingga kemasan minyak goreng. Jika pasokan bahan baku terganggu, dampaknya bisa meluas ke seluruh rantai distribusi. “Jadi di semua pabrik-pabrik itu sudah mulai terasa kelangkaan bijih plastik. Ini lebih krusial karena ini seluruh pangan, seluruh pupuk, seluruh beras itu menggunakan karung plastik,” terangnya.

Perusahaan ini belum bisa memastikan apakah situasi ini akan menyebabkan kenaikan harga produk akhir. “Belum (bisa memastikan harga pangan apakah ikut naik). Kalau potensi kita belum tahu. Belum sampai ke sana,” tegas Ghimoyo setelah rapat.

Kelangkaan bahan baku plastik disebabkan oleh kesulitan mitra produksi (maklon) dalam memperoleh pasokan. “Kita kan maklon. Kita maklon ada beberapa supplier yang untuk buat plastik, kemasan, segala macam, itu dia bilang kekurangan bahan,” tambah Ghimoyo.

Stok Bulog Masih Cukup, Tapi Siap Antisipasi

Di sisi lain, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan kondisi di perusahaannya masih stabil. “Jadi intinya gini. Plastik ini sedang dibicarakan oleh Kementerian Perindustrian. Jadi mungkin bukan bidang kami yang menjelaskan itu. Tapi kondisi itu mungkin bisa lebih dijelaskan oleh Kementerian Perindustrian,” kata Rizal.

Bulog mengklaim masih memiliki stok plastik yang memadai untuk kebutuhan saat ini. Namun, mereka siap mengambil langkah-langkah antisipasi. “Kebetulan Bulog masih ada stok untuk menghadapi kebutuhan-kebutuhan plastik itu. Namun di depan kita perlu ambil langkah-langkah antisipasi,” jelas Rizal.

Bulog juga memastikan bahwa kondisi ini belum memengaruhi harga beras yang didistribusikan. “Kalau kita kan produk PSO ya, jadi kita kan beras untuk rakyat bukan untuk komersil, dan saat ini masih ada stok (plastik). Itu saja yang saat ini bisa saya sampaikan,” tambahnya.

Lonjakan Harga Plastik Dipicu Ketegangan Geopolitik

Sebelumnya, industri pangan telah mengeluhkan lonjakan harga plastik dan stok yang semakin sulit diperoleh. Hal ini memicu kekhawatiran di berbagai sektor. Penyebabnya, menurut Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Inaplas, adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan baku petrokimia global.

“Untuk nafta kebutuhan 3 juta ton per tahun dan 100% impor. Untuk bahan baku plastik seperti PE, PP, PET, PS, dan PVC, sekitar 8 juta ton, dengan 50% masih impor,” kata Fajar kepada C.

Ketergantungan pada impor menjadi tantangan utama. Meski industri dalam negeri mulai merasakan dampak, saat ini stok plastik masih memadai. Namun, jika pasokan terus terganggu, risiko kenaikan harga produk akhir bisa meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *