Meeting Results: Pemerintah Akan Umumkan Opsi Penyelamatan Whoosh, Ini Bocorannya

Pemerintah Terbuka tentang Langkah Penyelamatan Whoosh, Berikut Skemanya

Jakarta, Dony Oskaria, selaku COO Danantara dan Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), mengungkapkan langkah-langkah untuk menyelesaikan isu pengelolaan Kereta Cepat Whoosh. Salah satu rencana yang dipertimbangkan adalah pengambilalihan sebagian saham PT Kereta Cepat Indonesia China oleh Kementerian Keuangan. Saat ditanya, Dony membenarkan bahwa skema tersebut sedang dipertimbangkan, meski belum ditetapkan secara resmi. “Ada beberapa pilihan, nanti saya akan perbarui karena saat ini belum selesai, kita update nanti agar tidak terlalu ramai,” jelas Dony.

Kemenkeu Masih Tunggu Finalisasi

Menurut Dony, ada dua skema yang dibahas, dengan harapan keputusan bisa diumumkan dalam 1-2 bulan ke depan. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum bersedia mengungkapkan rincian rencana tersebut. “Anda kata siapa?” tanya Purbaya saat dikonfirmasi. “Rapat sudah selesai, tinggal formalitas, tapi saya belum bisa umumkan karena bukan saya yang langsung terlibat. Nanti akan diumumkan, tapi sudah jelas bagaimana pengelolaannya,” tambahnya.

WIKA Dikabarkan Rugi Rp 1,7-1,8 Triliun per Tahun

Dalam kesempatan lain, Dony menyebutkan bahwa WIKA, sebagai salah satu pemegang saham di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia, mengalami kerugian signifikan dari proyek Kereta Cepat Indonesia-China. Menurutnya, perusahaan ini berpotensi merugi hingga Rp 1,7-1,8 triliun setiap tahun. “Mereka tidak akan terlibat lagi dalam proyek kereta api karena tidak sejalan dengan bisnis utama mereka,” kata Dony.

WIKA memiliki kepemilikan sebesar 33,36% di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia, yang merupakan konsorsium kemitraan antara pihak Indonesia dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd. Dony menjelaskan bahwa proses pemisahan perusahaan dari proyek ini membutuhkan waktu, namun pihaknya berkomitmen untuk menyelesaikan semua persoalan BUMN. “Nanti akan kita sampaikan, agar tidak mengejutkan publik,” terangnya.

Komposisi kepemilikan saham Beijing Yawan HSR Co. Ltd. terdiri dari CREC 42,88%, Sinohydro 30%, CRRC 12%, CRSC 10,12%, dan CRIC 5%. Dony menambahkan bahwa pembahasan dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan menghasilkan keputusan dalam dua minggu ke depan. “Dalam minggu depan atau dua minggu lagi, akan ketemu dengan wartawan dan pak Menkeu untuk menjelaskan penyelesaian Whoosh yang sudah final,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *