Meeting Results: Tiru Kesuksesan Jepang, Bulog Mau Sulap Beras Turun Mutu Jadi Tepung
Tiru Kesuksesan Jepang, Bulog Mau Sulap Beras Turun Mutu Jadi Tepung
Dalam upaya mendorong pengembangan industri pangan nasional, Perum Bulog sedang mempertimbangkan langkah hilirisasi beras yang menargetkan konversi beras kualitas rendah menjadi tepung. Ini dilakukan dengan mengacu pada metode yang telah berhasil diaplikasikan di Jepang, sekaligus untuk mengurangi ketergantungan pada impor tepung terigu. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengajukan kerja sama dengan pihak Jepang untuk mewujudkan pengolahan tersebut.
“Seperti di Jepang, kami berencana menerapkan pengolahan beras kualitas rendah menjadi tepung. Kemarin kami sudah melakukan pertemuan dengan Kedutaan Jepang, dan nanti akan dikembangkan,” ujar Rizal saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Negara Jepang dianggap sebagai model yang layak dikaji karena penggunaan tepung beras dalam industri makanan ringan sangat dominan. Rizal menyebutkan, di Jepang hampir 70% dari produk camilan menggunakan bahan dasar tepung beras. “Karena itu, kita ingin mengadopsi metode tersebut untuk mengurangi ketergantungan pada impor tepung terigu,” jelasnya.
Pengolahan ini dimulai dengan pemurnian kualitas beras yang turun mutu melalui teknik “rice to rice”. Beras yang tidak memenuhi standar konsumsi akan ditarik dan diproses ulang agar kembali layak digunakan. “Setelah beras diturunkan kualitasnya, kami akan lakukan pemurnian kembali. Hasilnya akan menjadi lebih baik lagi, meski tampilan mukanya agak kusam,” kata Rizal.
Menurut Rizal, beras dengan kualitas yang lebih lama justru memiliki nilai tambah untuk industri tepung. “Pengolah tepung lebih memilih beras yang sudah lama karena mudah mengembang saat dibuat menjadi makanan,” tambahnya.
Volume beras yang turun mutu mencapai 65 ribu ton dalam tahun 2025, menurut data yang disampaikan Rizal. “Dari total produksi nasional sekitar 44,37 juta ton, 65 ribu ton ini hanya menyumbang 0,15 persen,” ujarnya.
Langkah hilirisasi ini rencananya akan diterapkan dalam waktu dekat. “Beras yang tidak memenuhi standar konsumsi akan diproses menjadi tepung, sementara yang masih layak tetap dipasarkan,” pungkas Rizal.