New Policy: Kapan Resesi Benar-Benar Datang ke Amerika?

Kapan Resesi Benar-Benar Datang ke Amerika?

Dari Jakarta, kekhawatiran akan resesi di Amerika Serikat (AS) kembali muncul seiring tekanan ekonomi yang meningkat serta kenaikan harga energi yang signifikan. Namun, pertanyaan utamanya tetap menghiasi pembicaraan: kapan resesi benar-benar akan terjadi? Berbagai ahli menilai potensi resesi saat ini cukup tinggi, dengan pasar keuangan mulai bersiap menghadapi kemungkinan tersebut.

Faktor Penyebab Kekhawatiran

Pertumbuhan harga energi yang tinggi, terutama dalam sejarah, sering dianggap sebagai indikator awal resesi. Selain itu, kebijakan ekonomi yang dijalankan Presiden AS Donald Trump, termasuk tarif dan regulasi imigrasi, dinilai menambah ketidakpastian. Ahli strategi portofolio dari Richard Bernstein Advisors, Dan Suzuki, mengungkapkan meningkatnya kecemasan pasar terhadap perlambatan ekonomi.

“Pasar keuangan semakin menunjukkan tanda-tanda ketakutan akan resesi,” ujarnya.

Kondisi ini membuat para ekonom memprediksi perlambatan ekonomi, meski sejarah menunjukkan bahwa ramalan resesi sering kali meleset. Dalam delapan tahun terakhir, hampir setiap tahun ada peringatan potensi resesi, tetapi hanya sekali benar-benar terjadi, yakni pada 2020 saat pandemi memicu kontraksi global yang singkat namun tajam.

Teori Resesi yang Dipertanyakan

Meski ada indikasi perlambatan, sejumlah teori menawarkan penjelasan alternatif. Salah satunya adalah “resesi bergulir,” di mana pelemahan hanya terjadi di sektor tertentu, sementara sektor lain tetap tumbuh. Dekan sekolah bisnis dari Universitas Notre Dame de Namur, John M. Veitch, menjelaskan bahwa kondisi ini membuat resesi terasa tidak merata.

“Orang-orang bertanya kapan resesi akan datang. Jika Anda berada di sektor teknologi tinggi, itu terjadi tiga tahun lalu,” ujarnya, merujuk pada tekanan di sektor teknologi pada 2022.

Teori lain, “berbentuk K,” mengatakan bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi tetap mampu berbelanja, sehingga memperkuat konsumsi secara keseluruhan meskipun kelompok berpenghasilan rendah tertekan. Ada pula faktor “pengeluaran di muka,” di mana ancaman kebijakan tarif mendorong pelaku usaha dan konsumen mempercepat belanja sebelum kebijakan diterapkan, sehingga menopang pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Proyeksi dan Risiko Terkini

Kepala Ekonom EY-Parthenon, Greg Daco, memperkirakan peluang resesi AS saat ini sekitar 40%. Risiko tersebut dapat meningkat jika konflik geopolitik, terutama di Timur Tengah, semakin memburuk. “Ada risiko resesi yang nyata,” kata Long. “Tetapi Anda tidak ingin menjadi ekonom yang meramalkan bencana.”

Dengan berbagai ketidakpastian yang ada, ekonomi AS kini dinilai berada di persimpangan. Meski tanda-tanda perlambatan semakin terlihat, resesi yang telah lama diprediksi masih belum benar-benar terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *