New Policy: Krisis Energi Baru “Intro”, Dunia Bakal Susah Berbulan-bulan
Krisis Energi Baru “Intro”, Dunia Bakal Susah Berbulan-bulan
Dari Jakarta, pasar energi global diperkirakan akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih setelah mengalami gangguan akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Hal ini diungkapkan oleh utusan Kremlin, Kirill Dmitriev, yang menilai stabilisasi tidak akan terjadi dalam waktu dekat meski Selat Hormuz tetap terbuka. Dmitriev menyatakan bahwa “pemulihan pasar energi akan memakan waktu lama, bahkan jika Selat Hormuz tetap terjangkau,” menurut laporan RT, Kamis (9/4/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu dengan Iran sebagai langkah membuka ruang perundingan jangka panjang. Rencana itu didasarkan pada proposal 10 poin dari Teheran yang mempertahankan pengendalian Iran atas Selat Hormuz. Meski harga minyak turun sedikit akibat kabar gencatan senjata, para pelaku industri menilai tekanan di sektor energi masih tinggi.
Direktur Jenderal Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), Willie Walsh, mengatakan bahwa “pemulihan pasokan energi membutuhkan waktu lama, terlepas dari kembali terbukanya Selat Hormuz,” seperti dikutip RT. Ia mengacu pada gangguan kapasitas penyulingan di wilayah Timur Tengah. Konflik ini juga merusak infrastruktur energi secara signifikan, termasuk sejumlah kilang minyak.
“Jika Selat Hormuz tetap terbuka, pasokan energi masih butuh waktu berbulan-bulan untuk kembali ke level normal,” ujarnya.
CEO Thai Airways, Chai Eamsiri, menggambarkan kondisi saat ini sebagai gangguan terparah dalam hampir 40 tahun kariernya. Lebih dari 800 kapal dilaporkan terjebak di Teluk Persia karena penutupan Selat Hormuz pasca serangan akhir Februari. Data dari Organisasi Maritim Internasional menunjukkan sekitar 20.000 pelaut mengalami keterbatasan logistik, kelelahan, hingga tekanan psikologis.
Dampak konflik dianggap belum sepenuhnya terasa, berpotensi memicu kelangkaan pasokan energi. Selain itu, guncangan ini bisa merembet ke komoditas lain seperti pupuk, pangan, hingga barang konsumsi. Pelaku pasar kini memantau pergerakan kapal yang mulai melintasi selat, meski kondisi gencatan senjata dianggap masih rapuh.