sismin.my.id
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Nah, Media AS Sebut Uni Emirat Arab Diam-Diam Serang Iran Puluhan Kali

Published Mei 30, 2026 · Updated Mei 30, 2026 · By Rizki Purnama

Nah, Media AS Sebut Uni Emirat Arab Diam-Diam Serang Iran Puluhan Kali

New Policy - Dalam laporan terbaru, media Amerika Serikat mengungkap bahwa Uni Emirat Arab (UEA) melakukan sejumlah serangan udara terhadap Iran sebanyak puluhan kali sejak awal konflik antara AS, Israel, dan Iran. Serangan ini dilaporkan dimulai pada 28 Februari 2026, tepat di tengah perang yang memperumit hubungan geopolitik di wilayah Timur Tengah. The Wall Street Journal (WSJ), salah satu surat kabar terkemuka AS, mengungkap fakta ini berdasarkan sumber intelijen yang terpercaya, termasuk pejabat pemerintah AS.

Koordinasi dengan Pihak AS dan Israel

Operasi serangan udara yang dijalankan UEA disebut dilakukan secara diam-diam, dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat dan Israel. Sumber informasi yang sama menegaskan bahwa keduanya memberikan bantuan intelijen kepada UEA, termasuk data mengenai rute penerbangan dan titik target yang strategis. Koordinasi ini memperlihatkan hubungan kepercayaan yang terjalin antara negara-negara Arab Timur Tengah dengan dua pihak yang secara aktif terlibat dalam konflik tersebut.

“Pemerintah Uni Emirat Arab sepenuhnya bertanggung jawab atas serangan teroris dan dampak yang diakibatkan,” kata Kementerian Luar Negeri UEA dalam pernyataan resmi. Pernyataan ini menunjukkan upaya UEA untuk menjaga konsistensi dalam menjelaskan tindakan militer mereka, meski tetap mengakui keberadaan operasi rahasia.

Target utama serangan UEA mencakup pulau-pulau strategis di Selat Hormuz, kota pelabuhan Bandar Abbas, serta infrastruktur energi Iran yang kritis. Beberapa sumber menyebutkan bahwa pulau-pulau ini menjadi posisi penting untuk mengganggu operasi perladangan minyak dan distribusi energi, yang menjadi bagian dari upaya menyakinkan kekuatan global bahwa UEA sedang mendukung keselamatan energi regional. Selain itu, kompleks petrokimia dan kilang minyak di wilayah tersebut juga menjadi sasaran utama.

Strategi Penguasaan Energi dan Keamanan

Ketika konflik memasuki tahap yang lebih intens, UEA mengambil langkah yang lebih proaktif. Mereka memperkuat koordinasi dengan Israel, yang telah lama dikenal sebagai sekutu utama dalam upaya menekan Iran. Israel dikabarkan mengirimkan sistem pertahanan udara Iron Dome dan pasukan kecil ke Uni Emirat Arab sejak awal perang, yang menegaskan keberlanjutan hubungan militer antara kedua negara.

Menariknya, UEA juga mengambil keputusan politik yang kontroversial. Pada akhir April 2026, mereka menarik diri dari keanggotaan OPEC dan OPEC+, sebuah tindakan yang dianggap sebagai bagian dari upaya mempercepat kebijakan energi yang lebih liberal. Keputusan ini memperlihatkan pergeseran prioritas UEA dari eksportasi minyak ke pengembangan strategi keamanan yang lebih kompleks, terutama dalam konteks konflik dengan Iran.

Sebagai bagian dari kerja sama dengan Israel, UEA juga memperluas jangkauan operasi militer mereka. Pemangkasan anggota OPEC+ disebut sebagai tindakan yang mengakui peran UEA dalam menjaga stabilitas kawasan, meski ada kekhawatiran bahwa hal ini bisa memperburuk ketegangan dengan negara-negara lain yang tergabung dalam organisasi tersebut. Dengan dukungan dari sistem pertahanan udara Iron Dome, Israel dikabarkan mengurangi risiko serangan udara yang menargetkan fasilitas energi Iran, yang sebelumnya menjadi titik rawan dalam perang.

Selama beberapa hari setelah awal konflik, aktivitas militer UEA menunjukkan peningkatan. Data dari WSJ mencatat bahwa sebanyak 30 serangan udara telah dilakukan, yang menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur Iran. Meski tidak semua serangan tercatat secara terbuka, beberapa pengamat menilai bahwa UEA memainkan peran penting dalam mempercepat operasi militer di wilayah Timur Tengah. Mereka mengakui bahwa koordinasi dengan AS dan Israel memberikan keuntungan strategis, termasuk kecepatan respons dan keakuratan sasaran.

Ketegangan dan Dukungan Internasional

Keberhasilan serangan UEA memicu kecaman dari pihak Iran, yang menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk agresi yang tidak terduga. Namun, beberapa negara Timur Tengah dan negara-negara Barat mengapresiasi kebijakan UEA, terutama dalam konteks stabilitas wilayah dan dukungan terhadap kekuatan yang dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan internasional. Keberadaan Iron Dome dan kecepatan operasi militer UEA dianggap sebagai bukti bahwa negara-negara Arab telah menjadi bagian aktif dari front pertahanan global.

Kebijakan UEA ini juga memperlihatkan pergeseran dari posisi netral menuju dukungan lebih kuat terhadap Israel. Dengan penarikan dari OPEC, mereka memperkuat kemitraan ekonomi dengan AS, yang mengandalkan pasokan minyak dari wilayah tersebut. Namun, keputusan ini juga menimbulkan perdebatan di kalangan negara-negara Arab lainnya, yang khawatir bahwa UEA akan menjadi pihak yang terlalu terbuka dalam konflik dengan Iran.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran terus berlanjut, dengan UEA berperan sebagai pihak yang memperkuat kemitraan antara kedua pihak. Koordinasi ini menegaskan bahwa Arab Timur Tengah tidak lagi hanya menjadi pengamat, tetapi menjadi bagian aktif dari operasi militer yang menargetkan Iran. Sebagai akibatnya, tindakan UEA menimbulkan kekhawatiran akan efek domino terhadap hubungan antar negara-negara di kawasan tersebut.

Kemlu UEA juga menegaskan bahwa mereka mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan konflik dengan Iran, termasuk mempercepat pembangunan kembali infrastruktur yang rusak. Namun, keseriusan operasi militer mereka mengindikasikan bahwa negara-negara Arab kini memiliki kapasitas untuk melakukan aksi langsung dalam perang global. Hal ini menjadi bukti bahwa pengaruh politik dan militer UEA semakin meningkat di panggung internasional.