New Policy: Nyaris Jadi Menteri Arab, Orang Ini Ternyata Mata-Mata Israel

Nyaris Jadi Menteri Arab, Orang Ini Ternyata Mata-Mata Israel

Eli Cohen, agen rahasia Israel, memiliki kisah hidup yang tidak biasa. Ia hampir memperoleh posisi Wakil Menteri Pertahanan Suriah sebelum terungkap sebagai mata-mata. Menggunakan identitas Kamel Amin Thaabet, Cohen menjadi bagian dari operasi intelijen kunci dalam sejarah Mossad. Ia diutus ke Suriah pada 1954 dengan pengusaha tekstil sebagai dalang, sambil merajut latar belakang palsu sebagai warga Suriah yang pindah ke Argentina pada 1949 untuk mengembangkan usaha keluarga.

Kemunculan di Suriah

Cohen memasuki lingkaran kekuasaan Suriah melalui Jenderal Amin al-Hafez, yang ketika itu menjabat atase militer di Argentina. Ia berpura-pura tertarik kembali ke tanah air dan membantu membangun negara yang tengah dilanda korupsi. “Al-Hafez percaya dia adalah pengusaha nasionalis yang ingin memulihkan kehormatan Suriah,” tulis Elie Cohn dalam bukunya Our Man in Damascus (1971). Kepercayaan tersebut membuka jalan bagi Cohen untuk bertemu para pejabat senior dan elite militer.

Strategi dan Kontribusi

Berkat rutinitas pesta yang sering diadakan oleh elite Suriah, Cohen dapat mengumpulkan data intelijen tanpa disuspiskan. “Kebiasaan berpesta para pejabat menjadi celah besar bagi Cohen untuk menyampaikan informasi penting,” kata Samantha Wilson dalam karya Israel (2011). Operasi ini berlangsung selama lebih dari tiga tahun, hingga 1963 ketika al-Hafez naik menjadi presiden. Keduanya pun semakin dekat, dengan Cohen sering diberi akses ke lokasi militer sensitif.

Dari sana, ia mengirimkan informasi rahasia tentang pertahanan Suriah ke Israel melalui kode morse. Ketika dirinya hampir menjabat sebagai menteri, nasib berubah pada 1965. Suatu malam, militer Suriah mendeteksi sinyal morse yang mencurigakan dari tempat tinggal Cohen. Setelah penyelidikan intensif, ia ditangkap dan diadili sebagai mata-mata.

Konsekuensi dan Warisan

Presiden al-Hafez marah karena kebocoran intelijen yang menyebabkan Suriah kalah berulang kali melawan Israel. Cohen disiksa sebelum dihukum gantung di depan publik pada 18 Mei 1965. Tubuhnya tidak pernah dikembalikan ke Israel. Meski dijatuhi hukuman, dampak operasi Cohen masih terasa hingga Perang Enam Hari 1967. “Ia mungkin sosok paling berpengaruh dalam sejarah intelijen Timur Tengah,” tulis Cohn, menyoroti pengaruh besar Cohen terhadap dinamika regional.

“Ia sempat ragu menerima tawaran itu, namun Mossad mendorongnya melanjutkan operasi,” ungkap Cohn dalam bukunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *