New Policy: Permintaan Global Meningkat, RI Siap Ekspor 1,5 Juta Ton Pupuk

Permintaan Global Naik, Indonesia Berpotensi Ekspor 1,5 Juta Ton Pupuk

Jakarta, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan bahwa sektor pupuk Indonesia tengah menghadapi peluang ekspor besar karena gangguan distribusi internasional di Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kebutuhan pupuk global yang meningkat, dengan Indonesia sebagai salah satu produsen urea utama dunia.

Ketergantungan pada Jalur Selat Hormuz

Sudaryono menjelaskan bahwa sekitar 30 persen distribusi pupuk global melewati Selat Hormuz, yang sebagian besar berasal dari kawasan tersebut. Gangguan pada jalur ini menyebabkan beberapa negara kesulitan mendapatkan pasokan pupuk, terutama urea, sehingga memicu permintaan lebih besar terhadap produk Indonesia.

“Situasi ini menjadikan Indonesia sebagai sumber pasokan urea yang diminati. Kita memiliki kapasitas produksi yang signifikan,” tutur Sudaryono dalam pernyataan resmi di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Kemitraan dengan Negara-negara Utama

Menurut Sudaryono, beberapa negara seperti India, Filipina, dan Australia telah menyampaikan minat untuk memperoleh pupuk dari Indonesia. “Pemerintah India sudah menghubungi kami, sementara Filipina dan Australia juga mengirimkan surat. Mereka bersedia membeli dengan harga apa pun,” ungkapnya.

Perubahan Rencana Produksi Domestik

Sudaryono menambahkan bahwa rencana penutupan sejumlah pabrik pupuk dalam negeri yang sebelumnya dipertimbangkan kini dibatalkan. Hal ini karena meningkatnya permintaan internasional yang membuka peluang ekspor lebih luas. “Pabrik yang awalnya direncanakan untuk dihentikan kini tetap beroperasi. Permintaan pasar global terbukti sangat tinggi,” jelasnya.

Langkah Pemerintah dan Fokus pada Kebutuhan Dalam Negeri

Sudaryono juga menyampaikan bahwa informasi ini telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto, termasuk komunikasi dari pemimpin negara lain terkait permintaan pupuk. Dalam satu tahun ke depan, Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) menargetkan ekspor sebanyak 1,5 juta ton pupuk. Meski demikian, pemerintah memastikan kebutuhan petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.

“Kita memiliki rencana ekspor sebesar 1,5 juta ton, tapi kebutuhan petani di dalam negeri tetap dipenuhi terlebih dahulu. Ini tidak akan diubah,” tegas Sudaryono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *