New Policy: Survei Terbaru: RI Cs Pilih China Dibanding AS, Kenapa?

Survei Terbaru: Kekuatan Geopolitik ASEAN Berubah, Pemilih China Lebih dari AS

Sebuah laporan tahunan yang dirilis pada Selasa (7/4/2026) menunjukkan pergeseran signifikan dalam sentimen geopolitik Asia Tenggara. Survei ini mengungkap bahwa mayoritas responden di kawasan lebih condong memilih China daripada Amerika Serikat (AS) dalam skenario pilihan paksa. Angka dukungan untuk Beijing mencapai 52%, sedangkan AS hanya 48%, sebuah perbedaan kecil namun cukup mencerminkan dinamika hubungan bilateral.

Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa Beijing kembali menduduki posisi terdepan setelah sempat tertinggal dari AS selama periode 2020 hingga 2023. Sebelumnya, pada 2025, China hanya meraih 47.7%. Selama delapan tahun survei berjalan, Beijing hanya sekali memimpin dengan angka 50.5% di 2024.

“Hasil ini menegaskan bahwa keseimbangan preferensi regional tetap sangat rapuh, dengan margin tipis yang memisahkan dua kekuatan utama,”

tulis laporan.

Perbedaan Respons Nasional dalam ASEAN

Survei yang mencakup 2.008 responden dari 11 negara anggota ASEAN, termasuk Timor Leste yang bergabung Oktober 2025, menyoroti variasi pendapat di setiap negara. Pemilih China dominan di Indonesia (80.1%), Malaysia (68%), Singapura (66.3%), dan beberapa negara lain. Sementara itu, AS tetap didukung kuat di Filipina (76.8%) serta Myanmar (61.4%), Kamboja (61%), dan Vietnam (59.2%). Laos justru mencatatkan suara terbagi.

Laporan menyebutkan bahwa ketergantungan ekonomi yang dalam dengan China menjadi faktor utama yang mendorong pendukung untuk memilih Beijing. Di sisi lain, kepentingan keamanan dengan AS, terutama di Filipina, tetap kuat. Meski mayoritas responden masih menginginkan netralitas, keadaan ekonomi dan struktur politik memengaruhi preferensi mereka.

Antusiasme Terhadap Perbaikan Hubungan dengan China

Sebagian besar anggota ASEAN (55.6%) optimis bahwa hubungan dengan China akan meningkat atau membaik dalam tiga tahun mendatang. Meski ada ketegangan strategis, Beijing tetap dipandang sebagai mitra yang penting. Hal ini terlihat jelas di Timor Leste, Laos, Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Kamboja.

Namun, Filipina menjadi pengecualian. 55% responden di sana mengkhawatirkan penurunan hubungan dengan China, terutama akibat persaingan di Laut China Selatan. Perubahan ini menunjukkan bahwa faktor-faktor tertentu, seperti intervensi dalam urusan internal, masih memengaruhi persepsi positif terhadap China.

Dengan populasi sekitar 680 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang pesat, Asia Tenggara kian menjadi pusat perhatian bagi AS dan China. Survei ini memberikan gambaran bagaimana kekuatan besar mencoba memperkuat pengaruh mereka melalui hubungan bilateral yang bervariasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *