New Policy: Tak Hanya Minyak, 9 Barang Ini Ikut Kena ‘Kiamat’ Gegara Perang Iran
Ketegangan di Timur Tengah Berdampak Luas pada Pasokan Berbagai Komoditas
Krisis pengapalan di Selat Hormuz, yang saat ini menjadi gangguan terbesar dalam sejarah pasar energi global, berdampak lebih luas dari sekadar minyak. Faktor ini mengancam berbagai komoditas non-hidrokarbon, mulai dari bahan baku teknologi hingga infrastruktur pertanian. Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, menyoroti fenomena ini sebagai situasi luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya, sebagaimana diwartakan oleh World Economic Forum (WEF) pada hari Minggu, 05/04/2026.
“Krisis pengapalan di Selat Hormuz kini menjadi gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global,” ujar Birol.
Berikut adalah sembilan komoditas yang terkena dampak signifikan akibat konflik di Iran:
1. Pupuk (Urea dan Amonia)
Kawasan Teluk Arab berperan sebagai sentral pertanian global, dengan kontribusi minimal 20% dari total ekspor pupuk melalui laut. Ketergantungan dunia pada urea, pupuk nitrogen utama, mencapai 46% dari perdagangan global. Pasokan ini kritis untuk negara-negara seperti India, Brasil, dan Tiongkok. Jika gangguan terus berlangsung, ketersediaan pupuk di wilayah bergantung pada impor akan semakin ketat, meningkatkan biaya produksi pangan dan tekanan inflasi.
2. Sulfur
Sulfur, produk sampingan dari penyulingan minyak dan gas, kini mengalami kelangkaan akibat hambatan operasional kilang. Hampir separuh perdagangan sulfur global melalui Selat Hormuz, menjadikannya penentu harga dunia. Ketersediaan sulfur memperlambat produksi di industri manufaktur seperti Indonesia dan daerah sabuk tembaga Afrika. Material ini juga vital untuk asam sulfat, yang digunakan dalam proses pemurnian nikel dan kobalt untuk baterai kendaraan listrik (EV) serta pupuk fosfat.
3. Metanol
Sekitar 33% dari perdagangan metanol laut global melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan ini membatasi pasokan bahan baku kimia untuk resin, pelapis, dan plastik. Dampaknya dirasakan secara global, terutama pada industri kimia. China, sebagai pembeli metanol terbesar, berisiko mengalami penurunan persediaan di pelabuhan jika ekspor dari Timur Tengah tidak pulih. Hal ini dapat menaikkan harga produsen plastik, cat, dan serat sintetis.
4. Grafit Bahan Baku
Produksi grafit sintetis untuk anoda baterai kendaraan listrik sangat bergantung pada petroleum coke, produk sampingan dari kilang minyak. Saat harga grafit melonjak, kilang cenderung fokus pada output berharga lebih tinggi. Selain itu, biaya pengiriman yang meningkat memperparah tekanan pada harga grafit alam. Biaya baterai EV, yang sebelumnya terganggu oleh kelangkaan nikel, kobalt, dan sulfur, kini semakin berat.
5. Aluminium
Timur Tengah menyuplai sekitar 9% produksi aluminium global, di luar China. Konflik menyebabkan pasokan dari pabrik peleburan di kawasan Teluk terbatas, dengan lebih dari 150.000 ton logam yang diambil dari gudang di London Metal Exchange. Aluminium, yang digunakan secara luas dalam konstruksi dan teknologi energi terbarukan, menjadi komoditas rentan terhadap tekanan pasokan dari kawasan tersebut.
6. Helium
Qatar berperan penting dengan menyumbang hampir 30% kebutuhan helium dunia. Penyempitan pasokan helium mulai mengganggu rantai pasok teknologi, khususnya manufaktur semikonduktor yang memerlukan suhu sangat rendah. Meski begitu, kekhawatiran utama muncul dari potensi gangguan terhadap sektor yang bergantung pada helium.
7. Glikol
Glikol, bahan penting dalam industri kimia, mengalami tekanan pasokan karena gangguan di Selat Hormuz. Komoditas ini menjadi bagian integral dari proses produksi berbagai produk, sehingga kelangkaan bisa memperlambat operasional industri secara global.
8. Bijih Besi dan Pelet Baja
Perang mengakibatkan hambatan pada ekspor bijih besi dan pelet baja, dua komoditas kritis untuk sektor manufaktur dan konstruksi. Ketersediaan bahan ini menjadi lebih terbatas, mempengaruhi produksi baja di berbagai negara. Selain itu, sektor energi terbarukan juga terancam karena ketergantungan pada logam-logam tersebut.
9. Infrastruktur Hidrogen Hijau
Pengembangan hidrogen hijau, yang dianggap sebagai solusi energi masa depan, terganggu akibat gangguan pasokan dari Selat Hormuz. Infrastruktur yang bergantung pada bahan baku dari kawasan ini menghadapi risiko ketidakstabilan, memperlambat kemajuan dalam transisi energi ke sumber terbarukan.