New Policy: Trump Blak-Blakan: AS Sudah Kirim Senjata ke Milisi Iran Anti Khamenei
Trump Blak-Blakan: AS Sudah Kirim Senjata ke Milisi Iran Anti Khamenei
Jakarta – Dalam wawancara terbaru, Presiden AS Donald Trump mengungkap fakta yang mengagetkan tentang peran Washington dalam pemberontakan besar Iran bulan lalu. Trump secara langsung mengungkap bahwa pemerintahannya telah mengirimkan ribuan senjata ke kelompok pengunjuk rasa Iran. Berdasarkan laporan dari Russia Today (06/04/2026), Trump dalam wawancara dengan reporter Fox News, Trey Yingst, menyatakan bahwa pemerintahannya mengirimkan bantuan senjata secara rahasia.
Upaya Terselubung untuk Mendukung Demonstran
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. “Amerika Serikat mengirimkan ‘banyak’ senjata kepada pengunjuk rasa Iran selama kerusuhan di bulan Januari,” ujar Trump saat menjelaskan skala bantuan militer rahasia tersebut kepada Yingst. Namun, ia mengklaim bahwa rencana itu tidak berjalan maksimal, dengan dampak yang terbatas.
“Rencana tersebut kurang berhasil karena perantara Kurdi diduga menyimpan senjata alih-alih menyalurkannya kepada pengunjuk rasa,” kata Trump menjelaskan hambatan logistik yang terjadi.
Keterlibatan Mossad dalam Protes Iran
Protes di Iran yang dipicu oleh keluhan ekonomi dan melibatkan kekerasan memang secara terbuka didorong oleh Trump sejak awal. Pada masa itu, ia bahkan mengancam otoritas Iran dengan tindakan balasan jika mereka menindak keras kerusuhan. Selama tahap awal protes, mantan Kepala CIA Mike Pompeo juga memberikan dukungan eksplisit melalui pesan yang ia sampaikan kepada para demonstran.
“Saya mengirimkan salam kepada para demonstran dan setiap agen Mossad yang berjalan di samping mereka,” ucap Pompeo sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.
Peran Mossad dalam Destabilisasi Iran
Laporan New York Times (pertengahan Maret) menegaskan bahwa Mossad, intelijen Israel, berperan dalam memicu oposisi Iran selama fase awal kampanye pengeboman AS-Israel yang dimulai 28 Februari lalu. David Barnea, kepala Mossad, memberikan presentasi rencana destabilisasi kepada pemerintahan Trump di bulan Januari. Rencana ini kemudian digunakan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk meyakinkan Trump mengambil tindakan militer.
Pendekatan AS dalam Mendukung Kelompok Tertentu
Teheran justru berhasil mengonsolidasikan kendalinya meski ada upaya penggulingan kekuasaan melalui pemberontakan massal dan target pembunuhan terhadap pemimpin Iran. Serangan kelompok Kurdi yang sempat didorong oleh Trump belum terwujud hingga kini. Pendekatan AS dalam mendukung kelompok tertentu dengan senjata bukanlah langkah baru dalam sejarah kebijakannya. Di era 1980-an, CIA membacking gerilyawan Afghanistan, sementara di masa Obama, program Timber Sycamore di Suriah digunakan untuk memperkuat pemberontak.