Solving Problems: Gencatan Senjata Gak Ngaruh! Israel Bom 100 Titik Lebanon Dalam Sehari

Gencatan Senjata Gak Ngaruh! Israel Bom 100 Titik Lebanon Dalam Sehari

Beirut, Lebanon, mengalami kerusakan parah setelah militer Israel melakukan serangan udara massal tak terduga pada Rabu, 8 April 2026. Serangan ini menghancurkan lebih dari 100 lokasi di pusat kota, mengakibatkan kerusakan besar dan memperburuk krisis kemanusiaan, yang terjadi tepat saat isu gencatan senjata sedang menjadi perbincangan hangat.

Mengutip laporan The Guardian, jet tempur Israel menghancurkan gedung-gedung di kawasan ibu kota dan mengubah jalanan menjadi tumpukan puing. Rekaman video menunjukkan warga Lebanon berlarian di lingkungan Chiyah sambil berteriak histeris, mencari keluarga yang tertimbun bangunan yang runtuh.

“Ada orang di dalam!” teriak seorang pria yang terekam kamera saat berusaha mendekati gedung yang baru saja dihantam rudal.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan kondisi darurat di daerah itu, dengan rumah sakit di Beirut meminta bantuan darah secara mendesak. Pihak kementerian juga mengeluarkan pernyataan yang meminta warga membersihkan jalanan untuk memudahkan petugas medis mengakses korban.

Hingga Selasa, 7 April 2026, data resmi menunjukkan jumlah korban yang sangat tinggi akibat serangan udara Israel sejak 2 Maret. Jumlah korban jiwa mencapai lebih dari 1.530 orang, sementara 4.812 lainnya terluka.

Israel memulai operasi ke Lebanon setelah menyerang Iran bersama Amerika Serikat (AS) di akhir Februari. Tel Aviv menyatakan gempuran tersebut bertujuan untuk menekan milisi Hizbullah, kelompok bersenjata dan organisasi politik berbasis Syiah yang didanai langsung oleh Iran.

Serangan brutal Rabu ini menimbulkan pertanyaan besar, karena terjadi kurang dari 12 jam setelah pengumuman gencatan senjata yang dimediasi Pakistan. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, sebelumnya menyatakan kesepakatan damai yang seharusnya berlaku secara luas di wilayah konflik.

“Iran, AS, dan sekutu mereka telah menyetujui gencatan senjata di semua zona konflik, termasuk Lebanon dan tempat lain,” ujar Sharif saat mengumumkan kesepakatan tersebut.

Tetapi Israel menolak klaim tersebut, dengan menegaskan bahwa Lebanon adalah medan perang terpisah dari perundingan Iran. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan jeda dua minggu tidak mencakup wilayah kedaulatan Lebanon.

Kepemimpinan militer Israel juga mendukung penolakan ini, dengan tetap memerintahkan pasukan untuk menyerang Hizbullah. Pernyataan ini memperkuat keputusan mereka untuk melanjutkan operasi tanpa henti.

Kondisi saat ini membuat Lebanon semakin tertekan, karena lebih dari 1,1 juta orang harus mengungsi dan berlindung di jalanan. Kelompok Hizbullah, melalui anggotanya Ibrahim Moussawi, mengancam akan membalas serangan Israel jika tidak segera dihentikan.

“Kelompok bersenjata dan Iran akan melakukan balasan jika serangan terhadap Lebanon tidak berhenti,” ancam Moussawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *