Solving Problems: Konsumsi BBM Saat Lebaran Melejit Lampaui Proyeksi, Efek Panic Buying?
Konsumsi BBM Saat Lebaran Melejit, Efek Panic Buying?
Dalam rangkaian perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 H, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatatkan peningkatan signifikan dalam konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bensin dibandingkan prediksi awal. Data menunjukkan kenaikan sebesar 15% tercatat pada jenis bensin, yang melampaui estimasi sebelumnya. Meski ada fenomena panic buying di beberapa wilayah, faktor utama yang mendorong lonjakan konsumsi adalah durasi libur yang lebih panjang serta aktivitas pariwisata yang meningkat.
Pemicu Utama Peningkatan Mobilitas
Ketua Posko Nasional Sektor ESDM RAFI 2026, Erika Retnowati, menjelaskan bahwa mobilitas tinggi selama libur lebaran berdampak besar pada penggunaan BBM. “Masyarakat memang melakukan pembelian panik di beberapa area, tetapi itu tidak menjadi penyebab utama,” kata Erika dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (31/3/2026). Ia menambahkan, keberlanjutan libur yang lebih lama membuat lebih banyak orang memanfaatkan waktu untuk berwisata, sehingga memicu peningkatan penggunaan bahan bakar.
“Memang ada (panic buying), tapi nggak banyak. Itu hanya beberapa daerah saja. Namun, orang yang mudik kali ini luar biasa, selain itu jangka waktu liburnya panjang. Jadi, orang selain mudik juga banyak yang berwisata, nah itu tentunya menambah konsumsi BBM,”
Ketahanan Stok BBM Amankan Distribusi
Erika memastikan bahwa tingkat konsumsi yang meningkat tidak memicu ketegangan stok. Pihaknya melaporkan bahwa rata-rata ketahanan stok BBM mencapai di atas 20 hari untuk bensin, sekitar 18 hari untuk solar, hingga 40 hari untuk Pertamina Dex, 30 hari untuk avtur, dan 11,6 hari untuk LPG. Stok yang cukup menjaga kelancaran distribusi, terutama selama periode puncak arus mudik dan arus balik.
Transaksi BBM Tetap Lancar Tanpa Batasan
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menegaskan bahwa hingga saat ini, tidak ada perubahan aturan terkait pembatasan volume pembelian BBM bersubsidi. “Semua transaksi di SPBU berjalan normal, baik untuk BBM subsidi, kompensasi negara, maupun bahan bakar umum lainnya. Tidak ada pembatasan atau penyesuaian yang diterapkan,” tutur Wahyudi dalam kesempatan yang sama, Selasa (31/3/2026). Ia menambahkan, pemerintah akan mengevaluasi dan menetapkan kebijakan lebih lanjut sesuai kebutuhan.
BPH Migas juga mencatat bahwa puncak penyaluran bensin terjadi pada 19 Maret dengan kenaikan 37%, sedangkan arus balik pada 25 Maret mencatatkan kenaikan 20%. Kelancaran distribusi didukung oleh kesiapan 125 terminal BBM, 7.885 SPBU, 72 DPPU, serta partisipasi aktif dari perusahaan ritel swasta.