Special Plan: 10 Update Perang Timur Tengah, Blokade Memanas-Harga Minyak Gila Lagi
10 Update Perang Timur Tengah, Blokade Memanas-Harga Minyak Gila Lagi
Ketegangan di wilayah Timur Tengah kembali meruncing setelah Amerika Serikat (AS) mengambil tindakan keras terhadap Iran. Tindakan ini memicu kenaikan signifikan harga minyak global dan merangsang respons tajam dari Teheran serta sekutunya. Berikut penjelasan terbaru mengenai situasi di Timur Tengah, seperti yang dilaporkan AFP pada Senin (13/4/2026):
Trump Tidak Peduli pada Perundingan dengan Iran
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan sikapnya terhadap negosiasi dengan Iran. Ia menyatakan bahwa tidak masalah jika Iran tidak kembali ke meja perundingan. Selama akhir pekan di Pakistan, pembicaraan antara kedua pihak gagal mencapai kesepakatan. “Saya tidak mempermasalahkan apakah mereka kembali atau tidak. Jika tidak, saya tetap baik-baik saja,” tutur Trump kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland.
AS Siapkan Blokade Seluruh Pelabuhan Iran
Militer AS mengumumkan rencana blokade terhadap semua pelabuhan Iran, dimulai Senin pukul 14.00 GMT atau 21.00 WIB. Tindakan ini akan mengendalikan lalu lintas maritim di Selat Hormuz, jalur penting yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia. “Blokade diterapkan secara adil pada kapal dari negara mana pun yang masuk atau keluar pelabuhan Iran,” tulis Komando Pusat AS di akun resmi mereka. Namun, blokade tidak akan menghambat navigasi kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan non-Iran.
Iran Pernah Menegaskan Kendali Penuh atas Selat Hormuz
Menanggapi ancaman blokade, Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa mereka memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Pihak mereka memperingatkan bahwa lawan akan terjebak dalam “pusaran maut” jika mengambil langkah salah. Selain itu, Kepala Angkatan Laut Iran, Shahram Irani, menyebut ancaman Trump sebagai “konyol dan lucu” serta menegaskan bahwa militer Iran tetap memantau pergerakan pasukan AS.
Harga Minyak Melonjak
Fluktuasi harga minyak global berdampak langsung akibat memanasnya konflik. Harga minyak acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak hingga 8% ke level US$104,50 per barel atau sekitar Rp1,78 juta. Sementara minyak Brent untuk pengiriman Juni juga naik 7% ke US$102 per barel atau sekitar Rp1,74 juta.
Kesepakatan Iran-AS Hampir Tercapai
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa kesepakatan dengan AS hampir tercapai selama perundingan di Pakistan. Namun, perubahan sikap AS dan ancaman blokade menghambat proses tersebut. “Iran bertujuan mengakhiri perang dengan itikad baik,” tulisnya. “Namun, negosiasi terhambat karena sikap AS yang tidak konsisten dan ancaman blokade.”
Lebanon Dorong Penarikan Pasukan Israel
Konflik di Lebanon semakin memanas. Perdana Menteri (PM) Lebanon, Nawaf Salam, menekankan upaya pemerintahnya untuk menghentikan perang dengan Israel serta mendorong penarikan pasukan. “Kami akan terus berupaya mengakhiri perang ini dan pastikan Israel menarik seluruh pasukan dari wilayah kami,” katanya, menurut laporan kantor berita Iran.
Israel Klaim Ancaman dari Hizbullah Berkurang
PM Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa ancaman invasi dari Hizbullah telah berhasil dikendalikan oleh militer Israel. “Perang masih berlangsung, termasuk di zona keamanan Lebanon,” ujarnya dalam pernyataan video. Meski demikian, operasi militer terus berjalan di wilayah selatan Lebanon.
Insiden Baru dengan Pasukan PBB di Lebanon
Pasukan PBB di Lebanon (UNIFIL) melaporkan insiden di mana dua tank Israel menabrak kendaraan penjaga perdamaian. Selain itu, akses ke posisi UNIFIL juga diblokir oleh tentara Israel. Media resmi Lebanon mencatat serangan Israel mengakibatkan lima korban tewas dalam serangan terbaru, sehingga total korban mencapai 2.055 orang.
Iran dan AS Memperlihatkan Ketegangan yang Tinggi
Iran menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerah pada tekanan Washington. “Jika mereka melawan, kami akan melawan. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun,” tegas Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menurut laporan Iran. Sementara itu, AS terus menegaskan sikapnya terhadap blokade yang akan berdampak pada perang dagang dan keamanan energi.
Sekutu AS Ogah Bantu Trump
Beberapa sekutu AS menolak blokade Selat Hormuz. Inggris, misalnya, menunjukkan ketidaksetujuan terhadap langkah Trump. Tindakan ini menimbulkan kekhawatiran tentang pengaruhnya terhadap stabilitas regional dan pasokan minyak global.