Special Plan: Bukti China Jadi Negara Pemenang, Mampu Bertahan Tanpa Selat Hormuz
China Tetap Stabil Tanpa Ketergantungan pada Selat Hormuz
Saat sejumlah negara Asia khawatir terkait risiko penghentian pengangkutan minyak global melalui Selat Hormuz, China justru terlihat lebih tahan banting. Meskipun negara tersebut merupakan salah satu importir minyak terbesar dari wilayah Teluk, pemerintah Tiongkok dianggap mampu menghadapi gangguan pasokan energi secara efektif. Dengan konsumsi minyak yang sangat tinggi dari daerah tersebut, China tetap dianggap sebagai negara yang paling siap menghadapi skenario tersebut.
Energi Alternatif dan Diversifikasi Pasokan
Di tengah upaya negara Asia lain untuk mengurangi penggunaan energi dengan cara membatasi konsumsi, seperti mandi singkat atau kerja dari rumah, media resmi Partai Komunis China menyatakan bahwa negara ini telah membangun “sistem energi penuh” yang cukup kuat. Fakta ini menyiratkan bahwa Beijing tidak sepenuhnya tergantung pada jalur laut utama seperti Selat Hormuz. Sebaliknya, mereka telah melakukan beberapa langkah untuk mengurangi risiko ketergantungan.
“Situasi saat ini benar-benar mendekati apa yang telah direncanakan para perencana China selama beberapa dekade,” kata Lauri Myllyvirta, pendiri Centre for Research on Energy and Clean Air, melalui laporan Reuters, Kamis (2/4/2026). “Ini memvalidasi kebijakan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang diangkut melalui laut.”
Sebagai perbandingan, Jepang membeli sekitar 80% minyak dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, sementara China menyebar risiko dengan mengimpor dari delapan negara berbeda. Selain itu, Beijing juga memperoleh bahan bakar diskon dari Rusia, Venezuela, dan Iran—negara-negara yang sedang menghadapi sanksi AS. Sebagian dari impor tersebut disimpan dalam cadangan strategis yang tersembunyi.
Kemajuan Teknologi dan Cadangan Domestik
China kini mengoperasikan armada kendaraan listrik yang jumlahnya nyaris menandingi total kendaraan listrik global. Pertumbuhan energi bersih bahkan melampaui target pemerintah yang semula menetapkan 20% penjualan mobil baru pada 2025. Fakta bahwa penjualan kendaraan listrik sudah mencapai setengah dari total mobil baru pada tahun sebelumnya menunjukkan pergeseran signifikan dalam pola konsumsi energi.
Ketika produksi minyak domestik Tiongkok mencapai rekor 4,3 juta barel per hari tahun lalu, jumlah tersebut setara dengan sekitar 40% dari total impor. Namun, cadangan minyak dalam negeri mulai berkurang, sehingga tidak ada indikasi China akan mengikuti lonjakan minyak serpih seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Meski demikian, jaringan listrik negara ini hampir mandiri berkat bantuan batu bara dan sumber energi terbarukan.
Pengembangan Infrastruktur Energi
Ketersediaan gas alam juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi. Produksi gas bumi dalam negeri meningkat pesat, sehingga China kini mengimpor lebih sedikit LNG dibandingkan tahun 2020. Infrastruktur pipa yang berkembang memungkinkan pasokan dari Rusia, Asia Tengah, dan Myanmar, mengurangi ketergantungan pada jalur laut. Proyek pipa Power of Siberia 2, yang merupakan bagian dari rencana pengembangan energi ambisius, masih membutuhkan waktu beberapa tahun untuk rampung.
Dengan kombinasi kebijakan jangka panjang, teknologi, dan diversifikasi sumber daya, China dianggap memiliki kemampuan untuk tetap stabil meski terjadi gangguan pada Selat Hormuz. Chen Lin, Wakil Presiden Rystad Energy, menilai permintaan minyak Tiongkok kemungkinan mencapai puncaknya tahun ini sebelum mulai menurun, sehingga situasi energi tidak akan memburuk meskipun impor tetap menjadi bagian penting dari pasokan.