Special Plan: Heboh Perang di Mana-Mana, China Tetap yang Jadi Juaranya

Heboh Perang di Mana-Mana, China Tetap yang Jadi Juaranya

Konflik di Timur Tengah menjadi momentum yang menyoroti ketangguhan energi China. Meski situasi global memanas, negara ini tetap menunjukkan stabilitas yang jauh lebih baik dibanding banyak negara tetangganya. Konsumsi minyak yang tinggi dari kawasan Teluk ditopang oleh kebijakan lama yang mengurangi risiko ketidakpastian pasokan.

Ketergantungan Energi yang Dikurangi

China tidak hanya mengimpor minyak dari sumber-sumber beragam, tetapi juga memiliki cadangan yang memadai untuk menggantikan impor dari Selat Hormuz selama hampir tujuh bulan. Jaringan listriknya beroperasi secara mandiri, berkat produksi batu bara dalam negeri dan pengembangan energi terbarukan yang pesat. Angka kebutuhan impor batu bara serta LNG terus menurun, terutama di provinsi pesisir yang sebelumnya mengandalkan bahan bakar tersebut.

Transformasi Kendaraan Listrik

Adopsi kendaraan listrik di China mencapai level yang luar biasa. Jumlah mobil listrik yang terjual tahun lalu melebihi setengah dari seluruh kendaraan baru, melebihi target 20% yang ditetapkan pada akhir 2020. Kebijakan ini membuat konsumsi bahan bakar negara tersebut mencapai puncaknya setelah bertahun-tahun pertumbuhan, tetapi penggunaan minyak terus menurun.

“Situasi saat ini benar-benar mendekati apa yang telah direncanakan para perencana China selama beberapa dekade,” kata Lauri Myllyvirta, co-founder Centre for Research on Energy and Clean Air, seperti dikutip dari Reuters. “Ini memvalidasi usaha untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang diangkut melalui laut.”

Berbeda dengan importir Asia lain, China tidak bergantung pada satu negara penghasil minyak. Sebaliknya, negara ini mengimpor dari delapan negara berbeda, termasuk Rusia, Venezuela, dan Iran, yang mendapat diskon karena sanksi AS. Sebagian impor minyak dialirkan ke cadangan strategis rahasia, serta stok milik kilang komersial yang memperkuat ketahanannya.

Sementara itu, produksi minyak dalam negeri China mencapai rekor 4,3 juta barel per hari tahun lalu, setara 40% dari total impor. Namun, cadangan minyak lokal terus berkurang, sehingga tidak mungkin mengikuti lonjakan minyak serpih seperti di AS. Chen Lin, Wakil Presiden Rystad Energy, memprediksi permintaan minyak China akan mencapai puncaknya tahun ini sebelum mulai menurun.

Konsumsi Gas Alam yang Terkendali

Produksi gas alam di China meningkat signifikan, sehingga kebutuhan impor LNG berkurang dibanding 2020. Jaringan pipa energi yang memadai memungkinkan diversifikasi pasokan, termasuk dari Rusia, Asia Tengah, dan Myanmar. Rencana pembangunan pipa baru antara Rusia dan China, Power of Siberia 2, masih membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum rampung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *