Special Plan: Kemenperin Sebut Efisiensi Energi Tak Ganggu Produksi Tapi Warning Ini
Kemenperin Sebut Efisiensi Energi Tak Ganggu Produksi Tapi Warning Ini
Dari Jakarta, Kemenperin mulai mendorong industri untuk mengoptimalkan penggunaan energi menghadapi tekanan rantai pasok global. Tindakan ini dinilai tidak menghambat target produksi, meski menimbulkan tantangan baru, khususnya terkait biaya logistik dan harga bahan baku.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menyatakan bahwa industri dalam negeri masih bisa menjaga aktivitas produksi meski pasokan bahan baku dari Timur Tengah terganggu. Hal ini memaksa perusahaan lebih bijak dalam mengelola sumber daya yang dimiliki.
“Yang jelas untuk bahan baku pada industri hulu yang menggantungkan bahan bakunya dari Timur Tengah itu memang sedikit tersendat. Sampai saat ini industri yang sama masih berproduksi menggunakan bahan baku yang ada dan kemudian masih tetap akan berproduksi,” ujarnya.
Melalui keterbatasan pasokan, pasar mulai menyesuaikan harga beberapa produk turunan. Fenomena ini mencerminkan adanya tekanan biaya yang perlahan terasa di tingkat industri.
“Nah, cuma di lapangan, kami melihat ada kenaikan harga pada produk tertentu. Dan kami melihat bahwa itu adalah upaya oleh pasar untuk menyesuaikan harga pada produk-produk turunan dari bahan baku yang berasal dari Timur Tengah,” jelasnya.
Contoh produk seperti olefin dan plastik dalam sektor petrokimia dianggap relevan karena kegunaannya yang luas di berbagai industri. Mulai dari otomotif hingga makanan dan minuman, ketergantungan pada bahan ini membuat kenaikan harga sulit dihindari.
“Kalau produk petrokimia, misalnya, itu seperti olefin, plastik, ya, itu banyak digunakan oleh subsektor industri yang lain. Misal industri plastik di otomotif, kemasan di industri minuman, industri makanan, atau yang lain ya, itu dipakai,” katanya.
Meski demikian, pemerintah memandang tekanan ini belum menyentuh seluruh sektor. Dampak lebih besar berada pada subsektor yang mengandalkan impor bahan baku.
“Dampak dari krisis logistik energi di Timur Tengah ke industri masih sifatnya terbatas pada subsektor industri tertentu ya,” tegas Febri.
Dalam situasi ini, efisiensi energi menjadi strategi utama yang didorong pemerintah. Namun, langkah ini tidak berdiri sendiri, karena pelaku industri juga harus siap menghadapi potensi kenaikan biaya lainnya.
“Kami mengimbau untuk melakukan efisiensi penggunaan energi dalam proses produksi ataupun juga dalam aktivitas pendukung industri. Efisiensi penggunaan energi dalam proses produksi tidak mengurangi target produksi yang sudah direncanakan,” ujarnya.
Tantangan lain berasal dari faktor eksternal, terutama logistik. Kenaikan biaya distribusi dan pengiriman dianggap bisa mengurangi daya saing produk dalam negeri, baik di pasar lokal maupun ekspor.
“Peningkatan biaya energi berpotensi menekan IKI dan PMI, yang mencerminkan kinerja industri,” jelas Febri.