Special Plan: Memahami Harga Minyak Spot vs Berjangka, Ini Dampaknya ke Pasar
Memahami Perbedaan Harga Minyak Spot dan Berjangka, Dampaknya pada Pasar
Pasar minyak dunia kini memperlihatkan dua kondisi yang berlawanan. Di satu pihak, harga minyak Brent, yang sering dijadikan patokan global, masih berada di bawah level tertinggi sebelum krisis tahun 2022. Namun di sisi lain, harga minyak fisik yang siap dikirim mengalami kenaikan signifikan, mencerminkan ketatnya pasokan di lapangan. Menurut laporan The New York Times, saat mencari informasi harga minyak online, dua nilai utama biasanya muncul: harga dari AS dan Eropa. Kedua angka tersebut berasal dari pasar berjangka, yang bergerak cepat berdasarkan prediksi pelaku pasar tentang harga beberapa bulan ke depan.
Dalam kenyataannya, harga di pasar fisik, yaitu minyak yang benar-benar dikirim melalui kapal tanker, terlihat jauh lebih tinggi. Sebelum pengumuman gencatan senjata AS dan Iran, harga Brent berada di kisaran US$109 per barel. Sementara itu, di pasar spot, harga mencapai hampir US$145 per barel, menurut data Argus Media. Angka ini mencetak rekor baru dan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelum serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari.
Perbedaan antara kedua jenis harga ini disebabkan oleh mekanisme pasar yang berbeda. Harga berjangka mencerminkan ekspektasi investor, mirip dengan instrumen saham, sementara harga spot berhubungan langsung dengan ketersediaan nyata minyak mentah yang bisa diolah menjadi bahan bakar seperti bensin, diesel, dan avtur. Meski biasanya terdapat selisih harga antara futures dan spot, beberapa pekan terakhir jurangnya membesar secara dramatis, memicu kekhawatiran di industri energi.
Kekhawatiran dari Ahli dan Perusahaan
“Pasar berjangka sama sekali tidak mencerminkan realitas minyak di lapangan dan perairan,” ujar Vikas Dwivedi, pakar energi dari Macquarie Group, sebagaimana dilaporkan The New York Times, Sabtu (11/4/2026). “Pasar ini benar-benar kacau,” tambahnya.
“Harga fisik dan pasokan nyata akan mencerminkan situasi yang lebih ketat daripada yang terlihat dalam kurva forward,” komentar Mike Wirth, CEO Chevron, dalam acara CERAWeek di Houston.
Lonjakan perbedaan ini disebut sebagai yang terbesar dalam dua dekade terakhir. Para analis energi pun belum bisa memastikan penyebab utamanya. “Ini adalah misteri,” kata Dwivedi. Perang dengan Iran telah mengganggu pasokan minyak global, dengan lebih dari 10% supply terganggu akibat kesulitan kapal tanker melewati Selat Hormuz, jalur utama antara Iran dan Semenanjung Arab.
Dampaknya terasa luas. Harga energi meningkat di berbagai negara, terutama di Asia yang bergantung pada pasokan dari Teluk Persia. Beberapa wilayah mengalami kelangkaan bahan bakar, seperti di Vietnam dan Thailand, di mana beberapa SPBU sempat menolak pembelian karena stok habis. Sementara di Sri Lanka, pemerintah menetapkan hari libur setiap Rabu untuk menghemat penggunaan energi. Negara lain pun mulai menerapkan kebijakan kerja dari rumah sebagai upaya mengurangi permintaan.
Kondisi di lapangan belum banyak berubah meski pengumuman gencatan senjata AS dan Iran sempat menekan harga di pasar keuangan. Perusahaan pelayaran tetap berhati-hati melewati Selat Hormuz, sehingga sebagian besar pasokan minyak tetap terhambat. “Harga fisik ini hanya menunjukkan betapa ketatnya situasi saat ini,” tambah Jason Gabelman, analis energi dari TD Cowen.