Special Plan: Menguak Tujuan Licik Israel Serang Lebanon, Batalkan Gencatan Senjata?
Menguak Tujuan Licik Israel Serang Lebanon, Batalkan Gencatan Senjata?
Jakarta, Serangan udara besar-besaran yang dilakukan Israel secara tiba-tiba ke Lebanon menyebabkan kematian lebih dari 200 orang dan memicu kecaman dari komunitas internasional. Operasi militer ini menimbulkan pertanyaan mengenai tujuan sebenarnya, terutama dalam konteks usaha diplomatik yang sedang berlangsung. Analisis mendalam dari wartawan Senior Guardian, Peter Beaumont, mengungkap alasan politik yang mungkin mendasari serangan tersebut.
Beaumont menilai serangan ini bukan hanya operasi militer biasa, tapi juga spektakel kekerasan yang dirancang untuk memperkuat keuntungan politik Netanyahu. “Netanyahu dan para pejabatnya menyatakan bahwa serangan besar terhadap Hizbullah selama konflik sebulan penuh dengan Iran bertujuan mengarahkan serangan ke anggota kelompok bersenjata, tapi serangan ini justru menjadi bagian dari dramatisasi kekerasan untuk memperkuat keuntungan politiknya, daripada sekadar efektif secara militer,” tulis Beaumont dalam laporan Guardian.
Banyak pihak berspekulasi bahwa serangan yang menargetkan lebih dari 100 lokasi dalam waktu 10 menit ini bertujuan menghancurkan kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran. Kota padat penduduk di pusat Beirut menjadi salah satu sasaran utama. “Beberapa pihak menduga serangan itu diatur untuk merusak kesepakatan AS-Iran, yang secara umum dipandang dipaksakan kepada Netanyahu yang merasa tidak puas,” jelas Beaumont.
Media Israel memberikan alasan bahwa Hizbullah bermaksud memindahkan pos komando ke area sipil di luar pusat sejarah mereka untuk perlindungan. Namun, skalanya yang masif dan kematian Ali Yusuf Harshi, seorang penasihat penting Hizbullah Naim Qassem, mengindikasikan niat lebih ambisius, yakni upaya pembunuhan terhadap Qassem sendiri.
Dalam negosiasi gencatan senjata yang dipimpin Donald Trump dan tim diplomatnya, konflik Israel-Lebanon justru menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Meski Hizbullah mengklaim sudah diberi informasi dan bersedia menjalankan kesepakatan, Israel tetap melanjutkan serangan udara yang intens. “Negosiasi gencatan senjata yang dipandu Trump dan tim diplomat pemula menunjukkan bahwa isu perang Israel di Lebanon disengajakan atau tidak disengajakan, tetapi tetap menjadi ancaman terhadap kesepakatan itu,” kata Beaumont.
Strategi “Bumi Hangus” Netanyahu
Menurut Lembaga pemikir Soufan Center di New York, Netanyahu menggunakan strategi “bumi hangus” untuk memastikan gencatan senjata gagal. “Israel baru diberitahu tentang kesepakatan itu di menit terakhir dan merasa tidak senang. Netanyahu sekarang berupaya keras memperluas serangan di Lebanon, bahkan jika itu bisa menggagalkan kesepakatan damai,” tulis Soufan Center dalam buletin mereka.
Direktur Program Keamanan Internasional di Chatham House, Marion Messmer, menambahkan bahwa situasi ini menyoroti kegagalan Washington dalam mengelola hubungan dengan sekutu utamanya. “Tuntutan Israel bahwa tindakan militernya bukan bagian dari perjanjian mengungkapkan kelemahan utama diplomasi AS di Timur Tengah. Konflik yang sedang berlangsung bisa merusak kesepakatan gencatan senjata secara keseluruhan dan memaksa AS kembali ke dalam perang yang ingin ditinggalkan,” kata Messmer.