Special Plan: Rupiah Melemah, Pengusaha Diminta Pakai Fasilitas BI Ini Saat Impor
Rupiah Melemah, Pengusaha Diminta Manfaatkan Fasilitas BI Saat Impor
Dari Jakarta, depresiasi nilai tukar Rupiah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengusaha lokal. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai situasi ini menciptakan tantangan serius, khususnya bagi sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor. Data Refinitiv mencatat, mata uang Garuda ditutup pada Rp16.990 per dolar AS, dengan penurunan kecil sebesar 0,03%. Meski masih berada di bawah level Rp17.000/US$, posisi ini menjadi rekor terlemah Rupiah sepanjang sejarah.
Untuk mengatasi tekanan tersebut, Febri Hendri Antoni Arief, Juru Bicara Kemenperin, mengajak pelaku usaha mengurangi ketergantungan pada transaksi berbasis dolar AS. “Industri akan menghadapi tantangan, salah satunya adalah kenaikan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar. Karena itu, kami mengimbau agar mereka menggunakan fasilitas LCT, yaitu transaksi mata uang lokal dari Bank Indonesia saat mengimpor bahan baku,” katanya di Kemenperin, Selasa (31/3/2026).
“Kalau pakai local currency, dampak fluktuasi kurs tidak terlalu signifikan dibandingkan transaksi dalam dolar AS,” ujarnya.
Sementara itu, pelemahan Rupiah juga membuka peluang bagi industri ekspor. Momentum ini dinilai bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. “Ketika nilai tukar Dolar atas Rupiah naik, industri dalam negeri yang fokus pada pasar domestik bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mengisi rantai pasok internasional dengan barang produksi mereka,” jelasnya.
Di samping itu, Kemenperin kembali menekankan pentingnya kerja sama dalam sistem logistik nasional. “Kami mendorong industri dan seluruh elemen rantai pasok menggunakan LCT untuk mengantisipasi perubahan kurs saat mengimpor bahan baku,” tambahnya. Belajar dari krisis sebelumnya, pemerintah percaya sektor industri kini lebih siap menghadapi tekanan eksternal. “Industri telah mengekalkan pengalaman dari krisis dan pandemi, sehingga lebih adaptif terhadap tantangan masa depan,” tuturnya.