Topics Covered: Ada yang Tak Beres! Dulu Raja Gula Dunia, RI Kini Tukang Impor ‘Abadi’
Ada yang Tak Beres! Dulu Raja Gula Dunia, RI Kini Tukang Impor ‘Abadi’
Sejak kemerdekaan, Indonesia pernah menjadi produsen gula kedua terbesar di dunia setelah Kuba. Namun kini, negara ini justru mengandalkan impor dalam skala besar, dengan jumlah hingga jutaan ton setiap tahunnya. Angka impor gula yang terus meningkat mencerminkan kemerosotan daya tahan sektor pertanian, terutama industri gula, yang terus-menerus dibanjiri produk asing selama bertahun-tahun.
Kebijakan Masa Lalu Memperparah Ketergantungan
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa ketergantungan pada impor tidak terlepas dari kebijakan masa lalu yang terlalu liberal. Ia menyebut kondisi ini seperti pertarungan tidak seimbang, di mana produk lokal kesulitan bersaing dengan barang masuk yang lebih murah. “Ibarat Mike Tyson dihadapkan dengan Ellyas Pical tapi tanpa wasit,” ujar Amran dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI. “Ini harus kita kendalikan dengan lartas, karena kita menerima saran IMF tentang pasar bebas tanpa batasan.”
“Kami ini pandangan saja, Bu, bahwa saran IMF diterima mentah-mentah, akhirnya pertanian jadi berantakan. Kini kita satu-satu mencoba selesaikan,” tambahnya.
Kinerja Produksi Nasional dan Tren Impor
Produksi dalam negeri menunjukkan sedikit perbaikan, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Produksi gula kristal putih (GKP) naik 8,22% menjadi 2,67 juta ton pada 2025, didorong oleh peningkatan luas panen tebu. Luas lahan tebu meningkat dari 521 ribu hektare menjadi 563 ribu hektare, atau 8,17 persen. Meski demikian, konsumsi gula rumah tangga terus menurun, sehingga produksi nasional masih kalah dari permintaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, volume impor gula Indonesia cenderung meningkat. Antara 2017 hingga 2024, angka impor berkisar antara 4,5 juta hingga 6 juta ton per tahun. Pada 2022, impor mencapai 6,007 juta ton, menjadi rekor tertinggi. Nilainya juga melonjak hingga US$3,028 miliar atau sekitar Rp 51 triliun pada 2024, yang menjadi beban signifikan terhadap devisa.
Impor gula RI utamanya berasal dari negara-negara seperti Brasil, menurut Wakil Kepala BPS, Sonny Harry Budiutomo Harmadi. Meski produksi dalam negeri meningkat, impor tetap dominan, dengan total 3,93 juta ton pada 2025. “Secara umum pasokan lokal membaik, tetapi kita masih bergantung pada barang masuk,” jelas Sonny.
Ketergantungan pada Impor Tidak Hanya untuk Gula
Menurut Menteri Perdagangan, Budi Santoso, ketergantungan impor tidak hanya terjadi pada gula, tetapi juga produk turunannya seperti etanol. Pada 2025, Kementerian Perdagangan menerbitkan 13 persetujuan impor bahan bakar lain dengan alokasi 13.284.141 liter, dan realisasi mencapai 17,87% hingga 2.373.594 liter. Hingga 30 Maret 2026, sudah ada 6 persetujuan untuk etanol, dengan alokasi 6.937.565 liter, namun belum ada realisasi impor.
Menyadari kondisi ini, pemerintah mulai mendorong kembali penerapan kebijakan lartas untuk memperkuat produksi lokal. Langkah ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada impor dan memulihkan keseimbangan sektor pertanian.