Topics Covered: Petani Tebu Ungkap 4 Biang Keladi RI Doyan Impor Gula-Ancam Swasembada

Petani Tebu Ungkap Empat Faktor Utama yang Membuat Indonesia Masih Bergantung pada Impor Gula dan Sulit Capai Swasembada

Kurangnya Insentif Harga Menghambat Minat Petani Menanam Tebu

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mengungkapkan empat penyebab utama mengapa negara ini masih mengandalkan impor gula dan mengalami hambatan dalam mewujudkan swasembada. Ia menekankan bahwa masalah terbesar tidak hanya terletak pada volume produksi, tetapi juga pada sistem yang tidak sejalan dari hulu hingga hilir.

“Data kebutuhan gula untuk industri dinilai terlalu besar. Itu berdampak langsung pada keputusan impor. Pak Menteri Pertanian menyampaikan angka 3,9 juta ton, tapi data itu tidak akurat,” ujar Soemitro kepada CNBC Indonesia, Jumat (10/4/2026).

Kebijakan Impor Tidak Selaras dengan Kondisi Nyata di Lapangan

Soemitro menyoroti inkonsistensi antara pernyataan dan tindakan pemerintah dalam menentukan kebijakan impor. Ia menyebutkan bahwa kebijakan tersebut sering kali tidak menggambarkan situasi yang sebenarnya. “Meski stok gula dalam negeri masih ada, impor tetap dilakukan. Ini membuktikan bahwa kebijakan tidak sinkron dengan kondisi riil,” kata dia.

“Tahun lalu kita sudah ingatkan bahwa stok gula nasional cukup. Tapi pemerintah tetap beli impor. Akibatnya, petani mengalami kesulitan menjual hasil produksi,” tambah Soemitro.

Produksi Tertahan karena Masalah Manajemen dan Kebijakan

Kinerja produksi gula nasional juga terkendala oleh masalah manajemen dan kebijakan pemerintah. Soemitro menjelaskan bahwa kebijakan impor yang tidak konsisten membuat petani bingung dalam mengambil keputusan. “Kebijakan di lapangan sering kali tidak selaras dengan harapan. Itu membuat kita sulit mengambil langkah yang tepat,” ujarnya.

“Kita harus tegas dalam kebijakan. Jangan sampai pernyataan dan praktiknya tidak sama. Kalau ingin serius, caranya harus jelas,” tegas Soemitro.

Kompetitivitas Gula Impor Menjadi Ancaman Swasembada

Menurut Soemitro, harga gula yang dipatok rendah membuat petani enggan menanam tebu. “Harga gulanya dibatasi, sedangkan biaya produksi terus meningkat. Maka, petani cenderung beralih ke komoditas lain yang lebih menguntungkan,” kata dia.

“Harga pangan luar negeri jauh lebih murah karena negara tersebut sudah menerapkan mekanisasi. Di sana, kebun besar-besaran, sementara di sini hanya 200 hektare saja dianggap luas,” ujar Soemitro.

Soemitro menambahkan bahwa skala produksi di Indonesia masih jauh dari standar internasional. “Di luar negeri, 2.000 hektare bisa dianggap kebun besar. Di sini, 200 hektare saja dianggap cukup,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *