Video: Pasokan Terganggu & Harga Gas Mahal – Pengusaha Keramik Teriak

Video: Gangguan Pasokan Gas dan Kenaikan Harga, Pengusaha Keramik Keluhkan

Jakarta, Ketidakstabilan pasokan gas bumi dari PGN yang terjadi sejak awal 2026 dinilai berdampak signifikan pada operasional industri keramik nasional. Menurut Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto, hambatan dalam distribusi gas telah mengurangi efisiensi produksi sektor tersebut.

Kenaikan Biaya Produksi dan Utilisasi

Edy menjelaskan bahwa mulai Agustus 2025, pasokan gas terus mengalami gangguan, sehingga utilisasi produksi hanya mencapai 70 persen dari target 80 persen. Selain masalah ketersediaan, kenaikan harga gas juga menjadi beban tambahan bagi pengusaha. Sejak 2020, harga gas UAS 6 MMBTU terus meningkat, mencapai USD 6,5 MMBTU pada 2024 dan USD 7 MMBTU di 2025.

“Pasokan gas yang tidak menentu dan harga yang terus naik telah memengaruhi kinerja industri keramik,” ujar Edy Suyanto.

Dalam kondisi tersebut, produsen keramik terpaksa mengimpor gas dari sumber lain dengan harga lebih mahal, mencapai USD10–USD10,5 MMBTU. Meski demikian, Asaki tetap mendapat dukungan pemerintah melalui kebijakan pasar domestik yang dijamin oleh Standar Nasional Indonesia (SNI) serta aturan anti-dumping terhadap impor keramik dari Tiongkok. Hal ini memberikan harapan untuk pertumbuhan industri di masa depan.

Masalah pasokan gas dan biaya produksi yang meningkat menjadi sorotan utama dalam diskusi edisi terbaru CNBC Indonesia. Simak dialog lebih lanjut antara Bunga Cinka dengan Edy Suyanto dalam program Manufacture Check, yang tayang pada Senin, 06/04/2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *