Video:Gejolak Rupiah Efek Perang Iran Vs AS – Harga Alkes Terancam Naik
Video: Gejolak Rupiah Akibat Perang Iran vs AS, Harga Alkes Berpotensi Melonjak
Di tengah situasi geopolitik yang memanas akibat konflik antara Iran dan AS, nilai tukar Rupiah mengalami tekanan signifikan. Pada perdagangan 31 Maret 2026, mata uang Garuda mencapai titik terendah sebesar Rp 16.990 per Dolar AS, menurut laporan CNBC Indonesia. Pelemahan ini mencerminkan ketidakstabilan pasar yang dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah.
Kondisi tersebut memberikan dampak terhadap sektor industri dalam negeri, khususnya industri alat kesehatan yang masih bergantung pada bahan baku impor. Perang antara Iran dan AS mempercepat penurunan nilai Rupiah, sehingga meningkatkan risiko inflasi di sektor kesehatan. Menurut Charles Effendy, Wakil Ketua Bidang Industri dan Produksi Gakeslab, tren pelemahan Rupiah selama tiga tahun terakhir berada di kisaran 5-6% per tahun, tetapi dampak konflik kini menyebabkan penurunan hingga 1,5-2% setiap bulan.
“Industri alkes yang mengandalkan bahan baku impor, terutama untuk produk berbasis teknologi tinggi, akan sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar,” kata Charles Effendy.
Pelemahan Rupiah juga mengancam kenaikan harga jual alat kesehatan kepada konsumen. Dengan alkes impor menjadi lebih mahal, produsen lokal terpaksa menaikkan tarif mereka untuk menutupi biaya produksi. Dampak ini diperkirakan akan terasa lebih kuat pada bulan-bulan mendatang, terutama jika ketegangan di Timur Tengah berlangsung lebih lama.
Pengaruh Perang dan Pelemahan Rupiah pada Industri Alkes
Dalam wawancara dengan Maria Katarina, Charles Effendy menjelaskan bahwa konflik antara Iran dan AS telah mengubah dinamika pasar keuangan. Kondisi ini memaksa industri alkes Indonesia untuk beradaptasi dengan cepat, baik melalui penguatan produksi lokal maupun penyesuaian harga.